Kekeringan Kian Parah, Warga Bekasi Berburu Air Bersih Hingga 1 Kilometer

oleh -
oleh
Warga di Kabupaten Bekasi mengantre air bersih. (ist/brs)

BEKASIPEDIA.com | KABUPATEN BEKASI – Kekeringan yang melanda Kabupaten Bekasi, Jawa Barat semakin meluas. Di Kampung Babakan RT 013 RW 006, Desa Sukasari, Kecamatan Serangbaru, warga terpaksa berjalan hingga satu kilometer setiap hari untuk mendapatkan air bersih setelah sumur-sumur mereka mengering.

Surtiyati (39), salah seorang warga terdampak, mengaku kondisi tahun ini jauh lebih parah dibandingkan musim kemarau sebelumnya.

Menurutnya, sumur di rumah sudah tidak lagi mengeluarkan air meski musim kemarau baru berlangsung sekitar satu bulan.

“Biasanya kalau empat sampai lima bulan tidak hujan baru sumur kering. Sekarang baru sebulan lebih tidak hujan sudah tidak ada air,” ujar janda anak tiga ini, Senin (20/7/2026).

Untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, Surtiyati terpaksa mengambil air ke rumah kerabat yang berjarak sekitar satu kilometer dari rumahnya. Jika tidak memungkinkan, ia harus membeli air bersih.

“Satu kempu harganya Rp 100.000, itu hanya cukup untuk tiga hari. Dipakai buat masak, minum, mencuci, dan kebutuhan rumah tangga lainnya,” katanya.

Di tengah kesulitan tersebut, bantuan air bersih baru diterima warga pada hari itu. Surtiyati berharap distribusi bantuan dari pemerintah dapat dilakukan lebih rutin selama musim kemarau berlangsung.

“Harapannya bantuan air bersihnya lebih sering karena kami memang sangat membutuhkan,” ucapnya.

Sementara itu, perangkat Desa Sukasari, Subekti, mengatakan distribusi bantuan air bersih mulai dilakukan sejak 15 Juli 2026. Hingga saat ini total sebanyak 16.000 liter air telah disalurkan kepada warga terdampak.

“Hari pertama sekitar 10.000 liter, kemudian hari kedua 8.000 liter, dan hari ini total keseluruhan sudah mencapai 16.000 liter. Bantuan berasal dari BPBD Kabupaten Bekasi dan Dinas Sosial Provinsi Jawa Barat,” kata Subekti.

Ia menyebutkan, saat ini sedikitnya 150 keluarga di Kampung Babakan terdampak kekeringan. Sebagian besar sumur warga mengering sehingga masyarakat bergantung pada bantuan air bersih.

Menurut Subekti, Desa Sukasari pernah mengalami kekeringan pada 2022 hingga 2023. Kondisi sempat membaik pada 2024 dan 2025, namun kembali terjadi pada musim kemarau tahun ini.

“Pemerintah desa sudah mengusulkan penyediaan jaringan PDAM dan juga berkoordinasi dengan berbagai pihak agar ada bantuan melalui program CSR perusahaan yang berada di sekitar wilayah ini,” ujarnya.

Ia menambahkan, selain permukiman warga, sebagian lahan pertanian di Desa Sukasari juga mulai terdampak kekeringan meski masih ada petani yang dapat bercocok tanam.

Berdasarkan data Pemerintah Kabupaten Bekasi, dampak kekeringan kini telah meluas ke 49 titik di 10 desa yang tersebar di lima kecamatan, yakni Pebayuran, Serangbaru, Bojongmangu, Cibarusah, dan Cikarang Selatan.

Sebanyak 5.776 keluarga tercatat terdampak dan membutuhkan pasokan air bersih selama musim kemarau berlangsung. (brs/pede)