Kawasan Industri Bekasi Optimistis Genjot Penjualan Lahan untuk Logistik dan Data Center

oleh -
oleh
Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) Tahun Buku 2025 PT Bekasi Fajar Industrial Estate Tbk. (ist)

BEKASIPEDIA.com | KABUPATEN BEKASI – Pengelola kawasan industri PT Bekasi Fajar Industrial Estate Tbk menargetkan penjualan lahan sebesar Rp600 miliar pada 2026 dengan menyasar sektor potensial seperti warehouse dan logistik, consumer goods, food and beverage (F&B), serta data center.

“Perseroan melanjutkan pengembangan kawasan BeFa MM2100, termasuk cluster data center guna memenuhi kebutuhan industri berteknologi tinggi,” ujar Media Relations PT Bekasi Fajar Industrial Estate Tbk Rika Mandasari dalam keterangan persnya yang dilansir pada Jum’at (19/6/2026).

Disampaikan dia, sepanjang tahun 2025 perusahaan berhasil mencatatkan penjualan lahan atau marketing sales seluas 15 hektare dengan nilai mencapai Rp422 miliar.

“Perseroan membukukan pendapatan sebesar Rp427 miliar yang utamanya ditopang dari penjualan lahan sebesar Rp220 miliar dan sisanya berasal dari recurring income seperti maintenance fee, service charges, air, dan sewa sebesar Rp207 miliar. Laba bersih perseroan pada tahun 2025 mencapai Rp30 miliar,” kata Rika.

Langkah ini dilakukan seiring upaya perseroan memperkuat pengembangan kawasan industri MM2100 Bekasi di tengah meningkatnya kebutuhan industri modern dan berteknologi tinggi.

Target tersebut disampaikan setelah Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) Tahun Buku 2025 menyetujui dan mengesahkan Laporan Tahunan Perseroan untuk tahun buku yang berakhir pada 31 Desember 2025, termasuk laporan keuangan yang telah diaudit serta laporan pengawasan Dewan Komisaris.

Salah satu keputusan penting dalam RUPST adalah tidak adanya pembagian dividen untuk tahun buku 2025. Kebijakan tersebut diambil guna memperkuat modal kerja perusahaan sekaligus mendukung rencana pengembangan usaha di masa mendatang.

Menurut dia, kinerja perseroan juga menunjukkan perbaikan pada kuartal pertama 2026. Perseroan mencatat pendapatan sebesar Rp90 miliar, meningkat dua kali lipat dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya sebesar Rp45 miliar.

“Pertumbuhan tersebut didorong oleh peningkatan pendapatan berulang atau recurring income dari Rp45 miliar menjadi Rp54 miliar, serta mulai adanya kontribusi dari penjualan lahan,” katanya.

Dari sisi profitabilitas, pihaknya berhasil membalikkan kondisi keuangan dari rugi bersih Rp33 miliar pada kuartal pertama 2025 menjadi laba bersih Rp9 miliar pada kuartal pertama 2026. Margin laba bersih juga mengalami peningkatan signifikan dari minus 73 persen menjadi positif 10 persen.

Untuk mencapai target marketing sales Rp600 miliar pada tahun ini, perseroan tetap menjaga pertumbuhan pendapatan berulang secara stabil.

Selain memperkuat segmen kawasan industri, perusahaan juga mengembangkan sektor komersial melalui BeFa Industrial Hub. Pengembangan tersebut diharapkan dapat menjadi sumber pendapatan baru sekaligus mengoptimalkan pemanfaatan lahan yang tersedia.

Berdasarkan data Kementerian Perindustrian (Kemenperin), hingga 2025 terdapat 176 kawasan industri di Indonesia dengan total luas mencapai 98.291,68 hektare.

Kawasan industri tersebut menampung sekitar 11.970 tenant industri dengan nilai realisasi investasi mencapai Rp6.744,58 triliun serta menyerap tenaga kerja hingga 2,35 juta orang.

Pertumbuhan kawasan industri yang mencapai 49,15 persen dalam lima tahun terakhir turut meningkatkan kebutuhan terhadap sistem pengelolaan air dan limbah yang andal serta berkelanjutan. (ist/ant)