BEKASIPEDIA.com | KABUPATEN BEKASI – Pemerintah Kabupaten Bekasi, Jawa Barat sejauh ini telah menyalurkan 5,7 juta liter air bersih kepada warga terdampak kekeringan sejak distribusi perdana pada Selasa (9/6/2026) sebagai upaya mencegah krisis air sepanjang musim kemarau tahun 2026.
“Bantuan masih terus dilakukan sepanjang dibutuhkan guna memenuhi kebutuhan dasar warga terdampak kekeringan,” kata Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Bekasi Muchlis di Cikarang, Kamis (20/8/2026).
Ia mengatakan bantuan distribusi air bersih menyasar warga terdampak kekeringan di 35 desa yang tersebar pada 11 wilayah kecamatan dengan titik penyaluran saat ini telah mencapai 192 lokasi.
“Total hingga sore ini sudah mencapai 5.797.500 liter air bersih yang disalurkan kepada 65.659 jiwa dari 21.333 kepala keluarga terdampak kekeringan,” katanya.
Bantuan air bersih itu mencakup wilayah terdampak kekeringan di antaranya Kecamatan Sukawangi, Babelan, Sukakarya, Pebayuran, Tambun Selatan, Cikarang Selatan, Cikarang Pusat, Serang Baru, Cibarusah, Bojongmangu dan Kecamatan Setu.
Wilayah selatan Kabupaten Bekasi menjadi titik terparah terdampak kekeringan. Sejumlah desa di Kecamatan Cibarusah dan Bojongmangu memiliki titik sebaran kekeringan relatif tinggi.
“Cibarusah Kota ada 14 titik, Ridomanah 13 titik, Ridogalih 11 titik, Cibarusah Jaya dan Sirnajati masing-masing tujuh titik. Di Bojongmangu, Medalkrisna ada 16 titik, Karangindah 17 titik, Karangmulya tiga titik, Sukamukti dua titik dan Desa Bojongmangu satu titik,” katanya.
Sementara wilayah selatan lain yang juga terdampak parah kekeringan berada di Kecamatan Serang Baru dengan rincian 13 titik pada Desa Jayamulya, 11 titik di Nagasari, Nagacipta sebanyak tujuh titik, Jayasampurna lima titik serta tiga titik di Desa Cilangkara.
Sejumlah instansi turut terlibat aktif membantu warga terdampak kekeringan melalui pendistribusian air bersih mulai dari Perumda Tirta Bhagasasi, PMI, Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS), Perum Jasa Tirta (PJT), Kwarcab Pramuka, Jamket Kementerian Pekerjaan Umum hingga CSR perusahaan maupun kawasan industri.
Kabid Kedaruratan dan Logistik pada BPBD Kabupaten Bekasi Dody Supriyadi menambahkan dampak kekeringan tidak hanya dirasakan masyarakat yang membutuhkan air untuk keperluan sehari-hari namun juga pada areal pertanian produktif.
“Tercatat ada 1.827 hektare lahan pertanian produktif terdampak kekeringan. Lahan tersebut tersebar di 15 kecamatan dan 45 desa,” katanya.
Pemerintah daerah terus berupaya melakukan sejumlah langkah untuk menangani dampak tersebut, termasuk pompanisasi di wilayah pertanian yang mengalami kekeringan melalui Dinas Pertanian dan Perumda Tirta Bhagasasi.
Pemerintah daerah bersama sejumlah lembaga juga menyiapkan sarana pendukung agar pasokan air bersih dapat disimpan dan dimanfaatkan warga.
Salah satunya bantuan tempat penampungan air berupa toren di sejumlah titik terdampak. Bantuan set sumur bor juga diterima warga terdampak.
Dody mengaku penanganan musibah kekeringan membutuhkan sinergi sejumlah unsur terkait sehingga dapat terus berjalan optimal serta berkelanjutan.
Keterlibatan perangkat daerah, TNI-Polri, Perumda Tirta Bhagasasi, PMI maupun dunia usaha yang tergabung dalam klaster logistik memudahkan penanganan dampak musibah.
“Pemerintah Kabupaten Bekasi juga terus mengoptimalkan kegiatan normalisasi sungai, pembersihan dan pengangkutan sampah, penertiban bangunan liar di aliran sungai serta koordinasi dengan aparatur setempat untuk memudahkan penanganan,” katanya. (ist/ant)
Dapatkan berita dan informasi menarik lainnya di Google News dan jangan lupa ikuti kanal WhatsApp BEKASIPEDIA agar tak ketinggalan update berita menarik setiap hari.






