Tiga Tahun Drainase Mampet, Warga Bojong Menteng Rawalumbu Terpaksa Kerja Bakti Swadaya

oleh -
oleh
Warga turun “mengambil alih” peran negara menggelar kerja bakti swadaya pada saluran air tersumbat hampir tiga tahun dibiarkan hingga makan korban, di lingkungan RT 01 dan RT 03/RW 05, Kelurahan Bojong Menteng, Kecamatan Rawalumbu, Kota Bekasi. (ist)

BEKASIPEDIA.com | KOTA BEKASI – Tumpukan lumpur dan sampah yang memenuhi saluran drainase di lingkungan RT 01 dan RT 03/RW 05, Kelurahan Bojong Menteng, Kecamatan Rawalumbu, membuat warga kembali turun tangan.

Hampir tiga tahun saluran air tersebut disebut warga mengalami penyumbatan dan belum mendapatkan penanganan menyeluruh.

Kondisi itu membuat warga akhirnya menggelar kerja bakti secara swadaya untuk mengangkat endapan lumpur dan sampah yang memenuhi saluran sepanjang ratusan meter.

Bagi warga, kegiatan tersebut bukan sekadar rutinitas gotong royong. Ada keresahan yang ingin disampaikan: kondisi drainase yang tak kunjung tertangani dinilai telah mengganggu kenyamanan sekaligus meningkatkan risiko keselamatan pengguna jalan.

Endapan lumpur yang menebal membuat aliran air tidak berjalan optimal. Ketika hujan turun, saluran yang semestinya menjadi jalur pembuangan air justru berpotensi menimbulkan genangan di sekitar permukiman dan jalan warga.

Kondisi semakin mengkhawatirkan karena area di sekitar saluran juga disebut rawan membuat pengguna jalan terperosok.

Warga Sebut Sudah Ada Korban

Ketua RT 01, Untung, bersama Ketua RT 03, Djayadi, mengungkapkan bahwa keluhan terkait kondisi saluran air tersebut telah disampaikan berulang kali kepada pihak terkait.

Namun, menurut pengurus lingkungan, penanganan yang diharapkan warga belum terealisasi secara menyeluruh.

“Warga sudah banyak yang mengeluhkan. Bahkan sudah ada korban yang jatuh,” tegas perwakilan pengurus RT di lokasi kerja bakti.

Kekhawatiran warga bukan tanpa alasan. Saluran yang mengalami penyumbatan dan berada di sekitar akses warga menjadi titik yang membutuhkan perhatian, terutama ketika kondisi jalan licin atau jarak pandang pengguna jalan terganggu.

Karena itu, warga memilih melakukan langkah yang bisa mereka kerjakan terlebih dahulu. Lumpur dan sampah dikeruk secara gotong royong agar aliran air kembali lebih lancar.

Namun, warga menyadari bahwa kerja bakti tersebut hanya menjadi solusi sementara.

Persoalan yang lebih besar, seperti penyempitan konstruksi, kondisi fisik drainase, serta kebutuhan normalisasi secara menyeluruh, menurut warga membutuhkan penanganan teknis dari pemerintah daerah.

Swadaya Warga Bukan Solusi Permanen

Semangat gotong royong memang menjadi kekuatan warga di tengah persoalan lingkungan. Tetapi, warga berharap kerja bakti tidak kemudian dianggap sebagai pengganti kewajiban pemerintah dalam menyediakan infrastruktur dasar yang aman dan layak.

Apalagi, informasi yang diterima pengurus lingkungan menyebutkan bahwa perbaikan dan normalisasi saluran tersebut baru direncanakan masuk dalam plot anggaran awal 2027.

Rencana tersebut menjadi perhatian warga. Mereka mempertanyakan bagaimana kondisi saluran harus dihadapi selama menunggu proses penganggaran dan pelaksanaan pekerjaan.

Bagi warga Bojong Menteng, persoalan drainase bukan hanya soal air yang mengalir atau tidak mengalir. Ada aspek keselamatan, kenyamanan, kesehatan lingkungan, serta aktivitas masyarakat yang ikut terdampak.

Jika saluran kembali tersumbat, genangan dapat muncul dan aktivitas warga berpotensi terganggu. Sementara di sisi lain, kondisi fisik saluran yang dinilai belum ideal tetap menjadi kekhawatiran tersendiri.

Warga Minta Pemkot Turun Langsung

Melalui kerja bakti tersebut, warga sekaligus berharap Pemerintah Kota Bekasi dapat melihat langsung kondisi di lapangan dan memberikan solusi yang lebih permanen.

Warga meminta adanya penjelasan mengenai kondisi drainase, rencana penanganan, serta kepastian waktu pelaksanaan normalisasi.

Bagi mereka, persoalan infrastruktur lingkungan tidak cukup hanya diselesaikan dengan pengerukan lumpur secara berkala. Jika terdapat persoalan konstruksi maupun penyempitan saluran, dibutuhkan penanganan yang lebih komprehensif.

Warga juga berharap pemerintah tidak menunggu persoalan semakin besar sebelum mengambil tindakan.

Kerja bakti warga Bojong Menteng akhirnya menjadi potret sederhana tentang semangat gotong royong sekaligus bentuk perhatian terhadap persoalan fasilitas publik di lingkungan mereka.

Di satu sisi, warga menunjukkan bahwa kepedulian terhadap lingkungan masih hidup. Di sisi lain, mereka berharap kepedulian tersebut mendapat respons berupa penanganan nyata dari pemerintah.

Sebab, bagi warga, drainase yang berfungsi baik bukan sekadar fasilitas pelengkap. Ia menjadi bagian penting dari keamanan, kenyamanan dan kualitas hidup masyarakat sehari-hari.

Kini, warga menunggu langkah berikutnya: apakah saluran yang selama ini mereka bersihkan secara swadaya akan mendapatkan penanganan permanen, atau kembali menghadapi persoalan yang sama hingga 2027. (ist/bp)

Dapatkan berita dan informasi menarik lainnya di Google News dan jangan lupa ikuti kanal WhatsApp BEKASIPEDIA agar tak ketinggalan update berita menarik setiap hari.