Komeng Bantah Soal Surat Imajiner Sebagai Pengurus PSI

oleh -366 Dilihat
oleh
Foto Komeng di Surat Suara. (ist)

JAKARTA, BEKASIPEDIA.com – Alfiansyah Komeng membantah surat berisi imajiner dirinya untuk pengurus Partai Solidaritas Indonesia (PSI) yang beredar di media sosial (Medsos) dan sejumlah media online lainnya.

Diketahui saat ini, Komedian Alfiansyah Bustami alias Komeng memiliki perolehan suara teratas dalam pemilihan Dewan Perwakilan Daerah (DPD) Jawa Barat berdasarkan rekapitulasi sementara Komisi Pemilihan Umum (KPU) hingga mencapai 1,5 juta lebih.

Ia mengaku, sudah beberapa hari lalu ini memang banyak yang mempertanyakan hal itu kepada Komeng.

“Itu kan imajiner orang lain yang nulis, tapi tidak ijin saya,” terang Komeng, Selasa (20/2/2024).

“Banyak juga sih, teman-teman yang main Sosmed sudah bantu menyanggah,” tambahnya.

Intinya, Komeng menyatakan tidak terpancing atas beredar tulisan tersebut, begitu juga ia mengahrapkan hal sama kepada masyarakat serta pengurus PSI.

“Karena memang bagian mancing Adul (rekan artis.red),” gurau Komeng.

Surat Imajiner Komeng

Sebelumnya, beredar di media sosial Surat Komeng untuk Grace Natalie dkk. Berikut isi suratnya:

Surat imajiner Komeng kepada pengurus Partai Solidaritas Indonesia. Ironi partai penyusu kekuasaan.

Sis Grace Natalie dan kawan-kavan Partai Solidaritas Indonesia. Mohon maaf atas kelancangan saya menulis surat ini.

Saya bukan politikus. Saya komedian. Tanggal 14 Februari 2024 mungkin bakal menjadi hari yang bersejarah bagi saya.

Berdasarkan hitungan Komisi Pemilihan Umum, hingga hari ketiga setelah pemilu, saya mendapat hampir 1,5 juta suara -tertinggi untuk daerah pemilihan Jawa Barat.

Tak lama lagi, insyaallah, saya akan jadi anggota Dewan Perwakilan Daerah (DPD). Saya enggak punya program muluk-muluk.

Saya cuma ingin 27 September ditetapkan menjadi Hari Komedi Nasional. Dasarnya adalah hari kelahiran pelawak Bing Slamet.

Selama ini kan sudah ada Hari Guru, Hari Musik, Hari Puisi – selain Harry Moekti dan Harry Potter.

Satu yang membuat saya bangga, untuk menjadi senator, saya tidak pernah mencari beking. Saya tidak pernah mengemis suara.

Saya enggak mendukung Presiden dipilih kembali setelah dua periode berkuasa. Saya tidak mendirikan partai apalagi menjualnya kepada pemodal.

Saya tidak merengek kepada Presiden agar anaknya dizinkan menjadi ketua partai saya.

Saya enggak pernah berkampanye, foto saya tidak terpampang di pinggir jalan dan pohon pelindung.

Orang-orang kabarnya memilih saya
karena di kertas suara tampang saya lucu. Syukur alhamdulillah, saya sudah dikenal sebagai pelawak.

Saya pernah meminta kawan- kawan membagikan foto saya kepada calon pemilih. Eh, mereka malah mencetak pasfoto 3X4.

Foto kecil begitu, mana ada yang perhatiin. Karena itu, saya iri melihat foto calon legislator PSI tersebar sampai pelosok: cakep, rapi, seragam.

Di jalan pantai utara Jawa, spanduk kalian bererot. Di kampung-kampung sampai ke Indonesia timur, partai Sis Grace dijajakan.

Saya enggak tahu berapa biaya mencetak spanduk segitu banyak. Saya enggak tahu siapa yang memasang dan siapa yang membiayai. Saya enggak mau ikut-ikutan gibah: ada campur tangan aparat negara membantu logistik PSI.

Ketika didirikan pada 2014, PSI punya cita-cita mulia: menggalang politik yang dilandasi solidaritas untuk kemanusiaan.

Dibangun oleh anak muda, partai Sis penuh semangat. Panggilan “sis” dan “bro” kepada sesama pengurus partai mengingatkan saya pada zaman engkong saya dulu: saling memanggil “bung” sebagai tanda kesetaraan.

Tapi, dalam mencari pemimpin, PSI mendadak jadi tua. Kaesang Pangarep, putra bungsu Jokowi, kalian terima jadi ketua partai tanpa proses merit.

Hanya partai Orde Baru yang ketuanya didrop dari atas. Ya, ampun, Sis, jadi Ketua Karang Taruna aja harus berbulan-bulan dulu jadi anggota.

Dipimpin Kaesang, yang melanjutkan kepemimpinan Sis Grace di PSI, mendapat banyak keistimewaan.

Spanduk bergambar foto Presiden dan Mas Kaesang adalah jaminan dilirik orang lewat. Dengan tingkat kepuasan yang tinggi kepada Jokowi, partai Sis semestinya banyak dipilih.

Meski begitu, dalam hitung cepat sejumlah lembaga survei, tingkat keterpilihan PSI baru 2,9 persen.

Padahal, untuk masuk Senayan, partai minimal harus mendapat 4 persen suara nasional.

Saya enggak pernah dengar PSI bersuara lantang menentang ambang batas yang tinggi ini.

Mungkin partai Sis minder. Bisa juga kelewat pede. Elite PSI menyatakan mampu melampaui ambang batas.

Saya doakan berhasil. Saya enggak sabar bertemu dengan Sis dan kawan-kawan di Senayan. Tapi, jika nanti PSI tidak lolos, setidaknya kita bisa ngopi bareng di Patal Senayan. Uhuy! (ist/bp)