Abu Vulkanik Anak Krakatau Sampai Bekasi, Warga Rawalumbu Kaget Rumah Dipenuhi Debu

oleh -
oleh
Seorang warga di Kecamatan Rawalumbu, Kota Bekasi mendapati rumahnya tiba-tiba penuh debu diduga dari erupsi Gunung Anak Krakatau. (ist)

BEKASIPEDIA.com | KOTA BEKASI – Pagi yang biasanya diawali dengan aktivitas ringan di sekitar rumah mendadak terasa berbeda bagi Wiwik Nainggolan (48), warga Kecamatan Rawalumbu, Kota Bekasi, Jawa Barat, Minggu (6/9/2026).

Begitu keluar rumah, Wiwik mendapati sesuatu yang tidak biasa. Debu terlihat menempel di teras rumah. Bahkan, baru beberapa langkah berjalan, telapak kakinya sudah terasa kotor.

Semula, Wiwik mengira kondisi tersebut hanya disebabkan kemarau yang membuat debu jalanan lebih mudah beterbangan. Namun, kali ini debu yang menempel terasa jauh lebih pekat dibanding biasanya.

“Iya memang semenjak kemarau debu lebih banyak. Tapi pagi ini lebih pekat. Baru berjalan ke depan rumah juga kaki langsung kotor,” kata Wiwik, ibu satu anak, Minggu (6/9/2026).

Bukan hanya di rumahnya. Wiwik mengatakan, sejumlah tetangga juga merasakan hal serupa. Debu yang biasanya dianggap sebagai bagian dari aktivitas sehari-hari selama musim kemarau, pagi itu terlihat lebih tebal.

Saat menyapu rumah, Wiwik bahkan harus menghadapi debu yang lebih banyak dari biasanya.

“Ketika tadi pagi menyapu rumah, debunya lebih banyak,” ujarnya.

Belakangan, Wiwik mengetahui bahwa kondisi tersebut terjadi bersamaan dengan erupsi Gunung Anak Krakatau. Informasi mengenai sebaran abu vulkanik pun ramai dibicarakan di media sosial.

Dari sejumlah unggahan warganet, Wiwik mengetahui bahwa abu vulkanik disebut telah menyebar hingga wilayah Jakarta dan sekitarnya.

“Saya dapat informasi ada erupsi Gunung Krakatau. Terus pagi ini lihat medsos banyak yang bilang abunya sudah sampai wilayah Jakarta dan sekitarnya,” katanya.

Informasi tersebut membuat Wiwik lebih berhati-hati. Ia kemudian mengingatkan keluarganya agar mengurangi aktivitas di luar rumah jika memang tidak ada keperluan mendesak.

Menurutnya, kondisi udara yang dipenuhi partikel debu membuat penggunaan masker menjadi penting, terutama bagi mereka yang harus beraktivitas di luar.

“Iya saya bilang jangan pada keluar rumah dulu dan kalau harus keluar rumah ya harus pakai masker,” tandasnya.

Bukan Sekadar Debu Biasa

Fenomena yang dirasakan Wiwik menjadi pengingat bahwa abu vulkanik tidak bisa disamakan begitu saja dengan debu yang biasa beterbangan selama musim kemarau.

Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) mengimbau masyarakat di wilayah yang terdampak sebaran abu vulkanik Gunung Anak Krakatau untuk mengurangi aktivitas di luar ruangan.

Apabila aktivitas di luar rumah tidak dapat dihindari, masyarakat dianjurkan menggunakan masker yang sesuai untuk membantu melindungi saluran pernapasan.

Daryono, anggota Ikatan Ahli Bencana Indonesia (IABI), menjelaskan, karakter abu vulkanik membuat partikelnya memiliki potensi mengganggu kesehatan apabila terhirup.

“Berbeda dari debu biasa yang lunak dan mudah disaring, partikel abu vulkanik merupakan pecahan kaca silika dan batuan berukuran mikroskopis,” katanya.

Partikel yang sangat halus tersebut dapat masuk lebih jauh ke dalam sistem pernapasan. Dalam kondisi tertentu, paparan abu vulkanik dapat menimbulkan gangguan, terutama bagi masyarakat yang memiliki sensitivitas terhadap masalah pernapasan.

Selain berdampak pada saluran pernapasan, abu vulkanik juga dapat mengiritasi mata dan kulit.

Secara umum, paparan dalam jangka pendek dapat menyebabkan batuk, iritasi mata, hingga sesak napas, terutama pada kelompok yang rentan seperti penderita asma.

Karena itu, Daryono mengingatkan masyarakat agar membatasi aktivitas di luar ruangan selama terjadi sebaran abu vulkanik.

“Untuk meminimalkan risiko tersebut, aktivitas di luar ruangan sebaiknya dibatasi saat terjadi sebaran abu,” kata Daryono.

Jika memang harus keluar rumah, penggunaan perlindungan yang tepat juga menjadi bagian penting dari upaya mengurangi paparan.

Kacamata pelindung dapat digunakan untuk melindungi mata, sementara masker dengan tingkat filtrasi tinggi seperti N95 atau KN95 lebih dianjurkan dibandingkan masker kain biasa untuk menyaring partikel berukuran sangat kecil.

Pagi yang Membuat Warga Lebih Waspada

Bagi Wiwik, Minggu pagi itu menjadi pengalaman yang tidak biasa. Debu yang memenuhi teras dan membuat telapak kakinya kotor mungkin terlihat sederhana.

Namun, setelah mengetahui adanya aktivitas erupsi Gunung Anak Krakatau dan informasi mengenai sebaran abu vulkanik, kondisi tersebut membuatnya lebih waspada.

Kini, masker menjadi salah satu perlindungan yang tidak ingin ia abaikan ketika harus keluar rumah.

Di tengah musim kemarau dan aktivitas masyarakat yang tetap berjalan, pengalaman Wiwik menjadi pengingat sederhana: ketika abu vulkanik mulai menyelimuti lingkungan, kewaspadaan tidak boleh dianggap sepele.

Mengurangi aktivitas di luar rumah, menjaga kebersihan lingkungan, serta menggunakan perlindungan pernapasan yang tepat menjadi langkah sederhana yang dapat dilakukan masyarakat untuk mengurangi risiko paparan abu vulkanik. (pede)

Dapatkan berita dan informasi menarik lainnya di Google News dan jangan lupa ikuti kanal WhatsApp BEKASIPEDIA agar tak ketinggalan update berita menarik setiap hari.