KNKT Ungkap Enam Faktor di Balik Tabrakan Argo Bromo dan KRL Bekasi

oleh -
oleh
Insiden kecelakaan beruntun yang melibatkan satu unit taksi listrik dan tiga rangkaian kereta api, mengguncang kawasan Stasiun Bekasi Timur, Kota Bekasi, pada Senin (27/4/2026) malam. (ist)

Keempat, kendala komunikasi saat kondisi darurat.
Dalam situasi darurat, KNKT menemukan adanya kegagalan komunikasi radio operasional dari KA 5568A.

Di sisi lain, arus penyampaian informasi komunikasi darurat antara unit pengendali perjalanan kereta api juga menghadapi hambatan.

Kondisi tersebut membuat informasi mengenai situasi darurat tidak dapat tersampaikan secara optimal.

Kelima, belum adanya mekanisme penyampaian informasi antar-PPKP yang cepat dan terstruktur.

KNKT mencatat belum tersedia mekanisme pertukaran informasi yang cepat dan terstruktur antara PPKP Selatan, yang menangani kecelakaan di JPL 86, dengan PPKP Timur yang mengendalikan perjalanan KA 4B.

Kesenjangan komunikasi tersebut menjadi salah satu faktor yang turut berkontribusi dalam rangkaian kejadian kecelakaan.

Keenam, belum adanya prosedur pengereman darurat khusus.
KNKT juga menemukan belum terdapat standar atau prosedur pengereman darurat khusus ketika kereta melaju dengan kecepatan tinggi di jalur rel yang melengkung.

Ketiadaan prosedur khusus tersebut menjadi bagian dari evaluasi keselamatan yang muncul dari hasil investigasi kecelakaan.

Kerusakan Sarana dan Prasarana

Selain menimbulkan korban jiwa dan luka-luka, tabrakan juga menyebabkan kerusakan cukup berat pada sarana maupun prasarana perkeretaapian.

Lokomotif KA 4B Argo Bromo Anggrek, CC 206 13 86, mengalami kerusakan pada sejumlah bagian, antara lain kabin depan, tangki bahan bakar, pipa brake cylinder, cow catcher, serta frame deck.

Sementara itu, rangkaian KA 5568A Commuter Line mengalami kerusakan pada kereta K1 18173 dan K1 18174. Kedua kereta tersebut juga mengalami anjlok empat as.