BEKASIPEDIA.com – Kementerian Kesehatan (Kemenkes) mencatat penyakit jantung menyebabkan sekitar 260.000 kematian di Indonesia setiap tahun. Angka tersebut menjadikan penyakit jantung sebagai salah satu penyebab kematian tertinggi kedua setelah stroke.
Data Kemenkes menunjukkan prevalensi penyakit jantung cenderung meningkat pada kelompok usia produktif hingga lanjut usia.
Prevalensi tercatat sebesar 1,3% pada kelompok usia 35 tahun hingga 44 tahun dan 2,4% pada kelompok usia 45-54 tahun.
Hal tersebut disampaikan Direktur Utama RS Kemenkes Surabaya, dr Martha Siahaan menjelang peringatan Hari Jantung Sedunia yang diperingati setiap 29 September.
Ia mengimbau masyarakat menerapkan gaya hidup sehat sejak usia dini untuk menekan risiko penyakit jantung.
“Angka kematian penyakit jantung itu mencapai 260.000 per tahun, itu data dari Kemenkes. Imbauan kami kepada masyarakat supaya hidup sehat sejak dari kecil seperti jangan makan makanan yang berlemak, olah raga teratur, tidak merokok, tidak minum kopi berlebihan, serta istirahat yang cukup,” ungkap dr Martha Siahaan kepada wartawan, yang dilansir pada Selasa (29/9/2026).
Sementara itu, perwakilan Yayasan Jantung Indonesia cabang utama Jawa Timur, dr Agus Subagyo menjelaskan, penyakit jantung koroner dapat terjadi akibat penyempitan atau penyumbatan pembuluh darah yang memasok darah ke otot jantung.
Menurutnya, risiko penyakit jantung dapat ditekan dengan menerapkan pola hidup sehat. Upaya tersebut antara lain menjaga keseimbangan gizi, menghindari rokok, mengelola stres, mengawasi tekanan darah, serta berolahraga secara teratur.
Ia juga mengingatkan masyarakat bahwa memberikan air hangat kepada orang yang mengalami henti jantung bukanlah bentuk pertolongan yang tepat.
Dalam kondisi darurat, masyarakat perlu segera meminta bantuan medis dan melakukan kompresi dada sesuai panduan pertolongan pertama.
“Ketika jantung berhenti memompa darah, pasokan oksigen ke otak juga terhenti. Jika kondisi tersebut dibiarkan selama beberapa menit, maka risiko kerusakan otak permanen semakin besar,” ujarnya.
“Masyarakat perlu mengenali tanda-tanda henti jantung, seperti seseorang yang tiba-tiba tidak bergerak, tidak merespons, dan tidak bernapas secara normal. Dalam situasi tersebut, orang di sekitar korban harus segera meminta bantuan dan menghubungi layanan darurat medis,” imbuhnya.
Hari Jantung Sedunia atau World Heart Day diperingati setiap 29 September sebagai kampanye global untuk meningkatkan kesadaran mengenai pentingnya pencegahan penyakit kardiovaskular, termasuk penyakit jantung dan stroke. (brs/bp)
“Anda Ingin Kerjasama Publikasi Artikel/Berita Promosi dengan Backlink. Biayanya Hanya Rp 350.000, Silahkan WA ke 0815-1086-8686″
Dapatkan berita dan informasi menarik lainnya di Google News dan jangan lupa ikuti kanal WhatsApp BEKASIPEDIA agar tak ketinggalan update berita menarik setiap hari.





