BEKASIPEDIA.com | KOTA BEKASI – Di tengah ritme kehidupan kota yang serba cepat, kesehatan kerap menjadi hal yang terabaikan. Banyak orang baru memberi perhatian pada tubuhnya ketika sinyal-sinyal gangguan mulai terasa—saat lelah tak lagi hilang dengan istirahat, atau ketika hasil pemeriksaan menunjukkan angka yang tak lagi normal.
Fenomena ini bukan sekadar dugaan. Data Kementerian Kesehatan menunjukkan lebih dari 60 persen masyarakat Indonesia belum pernah memeriksa kadar gula darah maupun kolesterol. Sebagian besar bahkan baru datang ke fasilitas kesehatan ketika keluhan sudah muncul.
Padahal, di balik gaya hidup modern yang praktis dan dinamis, tersimpan risiko besar. Pola makan tidak seimbang, minimnya aktivitas fisik, kebiasaan makan tidak teratur, hingga tingginya tingkat stres perlahan menjadi “bom waktu” bagi kesehatan.
Dampaknya terlihat dari meningkatnya kasus penyakit kronis seperti diabetes, hipertensi, penyakit jantung, hingga obesitas—bahkan di usia produktif.
Melihat kondisi tersebut, Primaya Hospital Bekasi Barat menghadirkan sebuah pendekatan baru melalui peluncuran Wellness Center, sebuah pusat layanan kesehatan yang menitikberatkan pada pencegahan (preventive healthcare).
Direktur rumah sakit, dr. Yoana Periskila Winarto, MKK., MHPM, menegaskan bahwa perubahan pola pikir menjadi kunci utama dalam menjaga kesehatan di era modern.
“Selama ini banyak orang baru memeriksakan kesehatannya ketika sudah muncul keluhan. Padahal, berbagai penyakit kronis sebenarnya dapat dicegah atau ditangani lebih awal apabila masyarakat melakukan skrining kesehatan secara berkala serta menjaga gaya hidup yang lebih sehat,” ujarnya seperti rilisnya yang dilayangkan pada Kamis (19/3/2026).
Wellness Center ini dirancang sebagai ruang bagi masyarakat untuk lebih mengenal kondisi tubuhnya sejak dini.
Layanannya tidak hanya sebatas pemeriksaan, tetapi juga pendampingan menyeluruh—mulai dari medical check-up komprehensif, skrining kesehatan, konsultasi nutrisi, hingga program manajemen berat badan yang disesuaikan dengan kebutuhan individu.
Pendekatan ini juga diperkuat oleh pandangan para tenaga medis. dr. Davie Muhamad, Sp.GK, Dokter Spesialis Gizi Klinik, menyoroti bagaimana gaya hidup modern menjadi salah satu pemicu utama gangguan metabolik.
Menurutnya, pola makan tidak sehat dan kurangnya aktivitas fisik berkontribusi besar terhadap meningkatnya risiko obesitas.
Ia juga menekankan pentingnya konsep chrono-nutrition, yakni pengaturan waktu makan yang selaras dengan ritme biologis tubuh, sebagai bagian dari upaya menjaga keseimbangan metabolisme.
Sementara itu, dr. Ribka Tobing, Sp.Ak, Dokter Spesialis Akupuntur, melihat tren penyakit kronis kini semakin bergeser ke kelompok usia produktif.
Kondisi ini, kata dia, tidak lepas dari pola hidup yang kurang sehat dan tekanan hidup yang tinggi.
Melalui Wellness Center, setiap individu akan mendapatkan evaluasi kesehatan secara menyeluruh, sekaligus rekomendasi program yang dipersonalisasi.
Pendekatan ini diharapkan mampu membantu masyarakat tidak hanya hidup lebih sehat, tetapi juga lebih sadar akan pentingnya menjaga tubuh sebelum sakit datang.
Di akhir, dr. Yoana menyampaikan harapannya agar kehadiran layanan ini dapat menjadi bagian dari perubahan budaya kesehatan di masyarakat.
“Kami berharap Wellness Center dapat menjadi mitra masyarakat dalam menjaga kesehatan secara lebih proaktif. Dengan deteksi dini serta pengelolaan gaya hidup yang tepat, banyak penyakit kronis sebenarnya dapat dicegah sehingga kualitas hidup masyarakat dapat tetap terjaga,” tutupnya.
Di tengah tantangan gaya hidup modern, langkah kecil seperti pemeriksaan rutin dan perubahan pola hidup bisa menjadi pembeda—antara sekadar bertahan, atau benar-benar hidup dengan kualitas yang lebih baik. (rls/pede)
“Anda Ingin Kerjasama Publikasi Artikel/Berita Promosi. Biayanya Hanya Rp 200.000, Silahkan WA ke 0822-4974-0969″
Dapatkan berita dan informasi menarik lainnya di Google News dan jangan lupa ikuti kanal WhatsApp BEKASIPEDIA agar tak ketinggalan update berita menarik setiap hari.







