Sumber natrium juga tidak hanya berasal dari garam dapur. Saus, kecap, makanan ringan asin, mi instan, serta berbagai produk olahan dapat menyumbang natrium dalam jumlah cukup besar.
Artinya, mengurangi garam bukan hanya soal mengurangi garam yang ditambahkan saat memasak, tetapi juga memperhatikan kandungan natrium pada makanan kemasan.
3. Makanan Tinggi Lemak Jenuh
Lemak tetap dibutuhkan tubuh. Namun, jenis dan jumlah lemak yang dikonsumsi menjadi hal penting dalam pola makan.
WHO merekomendasikan konsumsi lemak jenuh kurang dari 10 persen dari total energi harian. Lemak jenuh antara lain terdapat pada daging berlemak, mentega, produk susu tinggi lemak, serta sejumlah jenis minyak dan lemak.
Makanan tersebut tidak otomatis harus dihilangkan seluruhnya. Yang lebih penting adalah mengatur jumlah dan frekuensi konsumsinya.
Sebagai alternatif, sebagian asupan lemak jenuh dapat digantikan dengan sumber lemak tidak jenuh, seperti ikan, alpukat, kacang-kacangan dan sejumlah minyak nabati.
4. Makanan yang Mengandung Lemak Trans
Lemak trans menjadi salah satu jenis lemak yang perlu mendapat perhatian khusus.
WHO menyebut lemak trans tidak menjadi bagian dari pola makan sehat dan merekomendasikan konsumsinya kurang dari 1 persen dari total energi.
Lemak trans industri dapat ditemukan pada sebagian makanan yang digoreng, makanan panggang tertentu, makanan ringan kemasan, serta produk yang menggunakan minyak terhidrogenasi sebagian.
Karena itu, makanan sebaiknya tidak hanya dinilai berdasarkan rasa atau jumlah kalorinya, tetapi juga komposisi lemak yang terkandung di dalamnya.
5. Makanan Ultra-Proses
Makanan ultra-proses juga patut menjadi perhatian ketika seseorang mulai mengevaluasi pola makan.
Produk seperti makanan ringan kemasan, mi instan, minuman berpemanis dan berbagai makanan yang melalui proses pengolahan sangat tinggi sering kali mengandung kombinasi gula, garam, lemak, dan energi dalam jumlah cukup besar.
WHO menyebut meningkatnya konsumsi makanan yang sangat diproses menjadi salah satu perubahan pola makan di berbagai negara. Pola makan sehat dianjurkan lebih banyak mengandalkan makanan yang minim proses pengolahan dan kaya zat gizi.
Namun, hubungan antara konsumsi makanan ultra-proses dan berbagai kondisi kesehatan perlu dilihat berdasarkan kualitas bukti penelitian masing-masing.
Karena itu, makanan ultra-proses tidak perlu dipandang sebagai sesuatu yang harus selalu dihapus total, melainkan konsumsinya dapat dibatasi sambil memperbanyak makanan utuh dan minim proses.





