BEKASIPEDIA.com – Bahaya rokok elektrik (vape) terhadap kesehatan reproduksi kini kian nyata. Penelitian terbaru yang dipimpin oleh tim ilmuwan dari University of California, Riverside (UCR) mengindikasikan bahwa perasa vanilin, salah satu bahan kimia yang sangat populer digunakan pada e-liquid, dapat mengganggu perkembangan normal embrio manusia pada wanita hamil.
Studi ilmiah yang telah diterbitkan dalam jurnal kesehatan terkemuka Human Reproduction ini memberikan secercah jawaban atas fenomena medis yang selama ini menjadi pertanyaan besar.
Hasil riset tersebut menawarkan penjelasan ilmiah mengenai keterkaitan antara kebiasaan vaping dengan risiko kegagalan kehamilan, kesulitan memperoleh keturunan, hingga kasus keguguran.
Disebut Science Daily, Sabtu (29/8/2026), riset ini berfokus pada pengujian sel punca embrio manusia di dalam laboratorium yang merepresentasikan kondisi sel janin pada usia kehamilan sekitar tiga minggu.
Peneliti sengaja memilih zat vanilin karena bahan kimia perasa ini digunakan dalam konsentrasi yang sangat tinggi pada berbagai merek produk rokok elektrik di pasaran.
Dalam proses pengujian, sel punca yang terpapar vanilin mengalami perubahan perilaku yang cukup ekstrem. Pada konsentrasi tinggi, vanilin terbukti mematikan sel embrio secara langsung.
“Sementara pada konsentrasi rendah, zat tersebut merusak kemampuan alami sel punca untuk berkembang menjadi berbagai jenis jaringan tubuh yang utuh,” tulis Science Daily.
Secara alami, sel embrio yang sehat harus membelah secara seimbang menjadi tiga lapisan utama, yaitu endoderm, ektoderm, dan mesoderm.
Namun, paparan vanilin memaksa sel embrio hanya berkembang menjadi jaringan endoderm (pembentuk saluran pencernaan dan pernapasan), sekaligus menggagalkan pembentukan ektoderm dan mesoderm yang sangat vital bagi pembentukan otak, sistem saraf, dan otot janin.
Para peneliti menemukan bahwa vanilin merusak sel dengan cara mengikat saluran khusus bernama TRPV4 pada permukaan sel embrio. Ikatan ini memicu lonjakan kalsium secara mendadak di dalam sel yang berujung pada kerusakan skenario pembelahan sel secara permanen.
Profesor Prue Talbot selaku ketua tim peneliti mengimbau agar para wanita yang sedang merencanakan kehamilan atau sedang mengandung untuk segera menghentikan kebiasaan vaping.
Ia menekankan bahwa fase prenatal merupakan periode paling rentan terhadap paparan senyawa kimia luar, meskipun dalam jumlah yang sangat kecil.
Melalui temuan bernilai medis ini, para ilmuwan mendesak badan regulasi kesehatan untuk mewajibkan produsen vape mencantumkan seluruh bahan kimia secara transparan pada kemasan produk.
Langkah ini dinilai sangat penting agar masyarakat, khususnya ibu hamil, terhindar dari risiko kerusakan janin yang tidak disadari sejak dini. (brs/ist)
Dapatkan berita dan informasi menarik lainnya di Google News dan jangan lupa ikuti kanal WhatsApp BEKASIPEDIA agar tak ketinggalan update berita menarik setiap hari.





