BEKASIPEDIA.com – Seiring laporan meningkatnya kasus influenza A di sejumlah wilayah Indonesia dalam beberapa waktu terakhir, dokter mengingatkan masyarakat agar mengenali gejala influenza dan tidak sembarangan mengonsumsi antibiotik.
Dokter spesialis penyakit dalam, dr Edwin Nugroho Njoto, mengatakan, masyarakat perlu memahami karakteristik influenza agar tidak keliru dalam menentukan penanganan.
Ia menuturkan, influenza A merupakan penyakit yang disebabkan oleh virus influenza yang menyerang sistem pernapasan.
Virus ini bukan jenis virus baru, tetapi dikenal mudah bermutasi dan menular.
Penularan influenza terutama terjadi melalui percikan dari saluran pernapasan ketika penderita batuk atau bersin. Risiko penularan juga dapat meningkat pada orang dengan daya tahan tubuh rendah atau mereka yang mengalami kelelahan akibat aktivitas padat.
Edwin mengatakan, gejala influenza umumnya diawali gangguan pada saluran pernapasan, seperti pilek, batuk, demam, hingga nyeri saat menelan.
“Yang perlu diwaspadai adalah ketika terjadi penurunan nafsu makan hingga sesak napas, sehingga perhatian lebih juga perlu diberikan kepada kelompok rentan, seperti lansia, anak-anak, dan ibu hamil,” ujar dr Edwin seperti dilansir pada Selasa (6/10/2026).

Namun, masyarakat perlu lebih waspada apabila gejala berkembang menjadi kondisi yang lebih berat.
“Pasien dengan penyakit penyerta tertentu, seperti diabetes atau gagal ginjal, juga berisiko mengalami kondisi yang lebih berat apabila terinfeksi influenza,” ujar dr. Edwin.
Hindari Sembarangan Konsumsi Antibiotik
Edwin juga menyoroti kebiasaan yang masih sering dilakukan masyarakat ketika mengalami flu, yakni mengonsumsi antibiotik tanpa pemeriksaan dan anjuran dokter.
Influenza yang disebabkan oleh virus sehingga antibiotik tidak digunakan untuk membunuh virus penyebab influenza.
Antibiotik baru dapat dipertimbangkan apabila berdasarkan pemeriksaan dan kondisi medis pasien ditemukan infeksi bakteri sekunder.
“Jangan baru flu sebentar sudah langsung diberi (obat) antibiotik, karena penyebab influenza adalah virus, bukan bakteri. Penggunaan antibiotik yang tidak tepat bukan hanya tidak efektif untuk mengatasi influenza, tetapi juga dapat meningkatkan risiko resistensi antibiotik,” tegasnya.
Untuk menjaga daya tahan tubuh dan mengurangi risiko penularan, masyarakat dianjurkan mencukupi waktu istirahat dan tidur, mengonsumsi makanan bergizi, memenuhi kebutuhan cairan, serta tetap melakukan aktivitas fisik atau olahraga secara teratur.
Kebiasaan mencuci tangan setelah beraktivitas di luar rumah dan sebelum makan juga perlu diterapkan. Bagi masyarakat yang mulai mengalami gejala seperti demam dan batuk, penggunaan masker ketika beraktivitas di luar rumah dianjurkan untuk mengurangi risiko menularkan penyakit kepada orang lain.
Etika batuk dan bersin juga penting diterapkan dengan menutup hidung serta mulut menggunakan tisu atau bagian dalam siku apabila tidak membawa tisu.
Sebagai langkah pencegahan tambahan, Edwin menyarankan masyarakat mempertimbangkan vaksinasi influenza secara rutin setiap tahun. Vaksinasi terutama penting dipertimbangkan oleh kelompok yang memiliki risiko lebih tinggi mengalami komplikasi akibat influenza.
“Dengan mengenali gejala, menjaga kebersihan, menerapkan pola hidup sehat, menggunakan masker saat sakit, serta menghindari penggunaan obat secara sembarangan, risiko penularan dan komplikasi influenza diharapkan dapat ditekan,” pungkas dr Edwin. (brs/jek)






