Sarwin Kawal Aspirasi Warga Mustika Sari, SMPN 61 Bekasi Direncanakan Dibangun Tahun Depan

oleh -
oleh
Anggota DPRD Kota Bekasi dari Fraksi Golkar, Sarwin Edi Saputra. (pede)

BEKASIPEDIA.com | KOTA BEKASI – Akses pendidikan yang dekat dan terjangkau masih menjadi harapan masyarakat di Kelurahan Mustika Sari, Kecamatan Mustika Jaya, Kota Bekasi. Selama ini, ketiadaan gedung Sekolah Menengah Pertama (SMP) negeri di wilayah tersebut menjadi tantangan tersendiri bagi orang tua dalam memastikan anak-anak mereka mendapatkan pendidikan yang layak.

Harapan itu kini mulai menemukan titik terang. Pembangunan Sekolah Menengah Pertama Negeri (SMPN) 61 Kota Bekasi di Kelurahan Mustika Sari diproyeksikan masuk dalam rencana pembangunan pada tahun anggaran 2027.

Rencana tersebut menjadi kabar menggembirakan bagi masyarakat yang selama ini mendambakan kehadiran fasilitas pendidikan negeri di lingkungan mereka.

Namun, harapan itu tentu perlu diikuti dengan pengawalan agar rencana pembangunan tidak berhenti sebatas perencanaan.

Anggota DPRD Kota Bekasi dari Fraksi Golkar, Sarwin Edi Saputra, menyatakan komitmennya untuk mengawal rencana pembangunan SMPN 61 hingga dapat direalisasikan dan memberikan manfaat nyata bagi masyarakat.

Komitmen itu disampaikannya saat melaksanakan kegiatan Reses III Tahun Anggaran 2026 di lingkungan RW 04, Kelurahan Mustika Sari, Sabtu (10/10/2026).

Dalam pertemuan tersebut, Sarwin menyerap berbagai aspirasi masyarakat, termasuk kebutuhan mendesak akan fasilitas pendidikan negeri.

“Berdasarkan informasi rencana kerja dari dinas terkait, sudah ada alokasi perencanaan pembangunan SMP Negeri 61 pada tahun 2027 di wilayah Mustika Sari. Rencana ini akan terus kami kawal agar terealisasi tepat waktu sehingga anak-anak kita memiliki akses pendidikan negeri yang lebih dekat,” tegas Sarwin di hadapan warga.

Ketiadaan SMP Negeri Jadi Tantangan Orang Tua

Bagi masyarakat Mustika Sari, pembangunan SMPN 61 bukan sekadar penambahan gedung sekolah.

Kehadirannya diharapkan menjadi solusi atas persoalan akses pendidikan yang selama ini dirasakan keluarga, terutama ketika anak-anak menyelesaikan pendidikan sekolah dasar dan melanjutkan ke jenjang SMP.

Ketiadaan SMP negeri di wilayah tersebut membuat orang tua harus mempertimbangkan berbagai pilihan sekolah di luar lingkungan tempat tinggal mereka.

Situasi ini semakin menantang ketika penerimaan peserta didik baru berlangsung, sementara daya tampung sekolah negeri dan ketentuan zonasi menjadi faktor yang memengaruhi peluang anak untuk mendapatkan sekolah yang diinginkan.

Sarwin menilai, keberadaan SMPN 61 sangat penting untuk memperluas akses pendidikan negeri bagi masyarakat Mustika Sari.

“Tidak adanya SMP Negeri di sini kerap menyulitkan para orang tua murid saat proses Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) berlangsung, karena keterbatasan kuota dan kendala zonasi,” tuturnya.

Dengan adanya rencana pembangunan tersebut, masyarakat berharap anak-anak di Mustika Sari memiliki kesempatan lebih besar untuk mengakses pendidikan negeri tanpa harus menghadapi kendala jarak dan keterbatasan daya tampung di wilayah lain.

Meski demikian, realisasi pembangunan tetap membutuhkan kepastian tahapan perencanaan, penganggaran, hingga pelaksanaan pekerjaan.

Karena itu, pengawalan dari pihak legislatif bersama pemerintah daerah dan dinas teknis menjadi bagian penting agar kebutuhan masyarakat dapat diterjemahkan menjadi program pembangunan yang nyata.

Tak Hanya Pendidikan, Infrastruktur Lingkungan Juga Disorot

Dalam kegiatan reses tersebut, Sarwin tidak hanya menerima aspirasi mengenai pembangunan SMPN 61. Sejumlah persoalan infrastruktur dan fasilitas umum yang berkaitan langsung dengan kebutuhan warga turut menjadi perhatian.

Salah satunya adalah pembenahan saluran drainase di kawasan permukiman. Persoalan drainase menjadi penting karena saluran yang tidak berfungsi optimal berpotensi memicu genangan air, terutama ketika hujan turun dengan intensitas tinggi.

Selain itu, warga juga menyampaikan aspirasi mengenai kejelasan usulan pengadaan armada ambulans untuk kebutuhan masyarakat.

Usulan tersebut disebut masih terkendala proses audit Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) di Dinas Kesehatan.

Kebutuhan lainnya adalah penyediaan lahan fasilitas sosial dan fasilitas umum (fasos-fasum) yang dapat dimanfaatkan sebagai lapangan olahraga bagi kalangan anak muda.

Keberadaan ruang terbuka untuk kegiatan olahraga dinilai penting sebagai sarana aktivitas positif, sekaligus mendukung interaksi sosial dan pengembangan potensi generasi muda di lingkungan permukiman.

Beragam aspirasi tersebut menunjukkan bahwa kebutuhan masyarakat Mustika Sari tidak hanya berkaitan dengan pembangunan fisik, tetapi juga menyangkut pelayanan publik, kenyamanan lingkungan, serta ketersediaan ruang aktivitas bagi warga.

Aspirasi Warga Menjadi Catatan Pembahasan Anggaran

Sarwin menegaskan, seluruh aspirasi yang disampaikan masyarakat akan menjadi bahan perjuangan dalam pembahasan bersama organisasi perangkat daerah (OPD) teknis Pemerintah Kota Bekasi.

Menurutnya, kegiatan reses merupakan kesempatan bagi anggota dewan untuk mendengar secara langsung persoalan yang dihadapi masyarakat sekaligus mengidentifikasi kebutuhan pembangunan yang harus mendapatkan perhatian.

“Seluruh aspirasi warga Mustika Sari, baik sektor pendidikan maupun infrastruktur lingkungan, menjadi catatan prioritas yang akan kami bawa ke rapat pembahasan anggaran bersama dinas teknis Pemkot Bekasi,” pungkas Sarwin.

Bagi warga Mustika Sari, rencana pembangunan SMPN 61 pada 2027 menjadi harapan baru bagi masa depan pendidikan anak-anak mereka. Namun, harapan itu baru akan benar-benar terwujud ketika perencanaan berlanjut menjadi pembangunan yang nyata.

Kini, masyarakat menantikan langkah konkret pemerintah daerah untuk memastikan kebutuhan sekolah negeri di Mustika Sari mendapat perhatian dalam proses penganggaran dan pelaksanaan pembangunan.

Sebab, menghadirkan sekolah bukan hanya membangun gedung, melainkan juga membuka akses, memperluas kesempatan, dan menyiapkan masa depan generasi muda Kota Bekasi. (pede)