BEKASIPEDIA.com | KOTA BEKASI – Harapan masyarakat untuk menikmati perjalanan yang lebih lancar di kawasan Bulak Kapal, Kota Bekasi, mulai menemukan titik terang. Pemerintah pusat bersama Pemerintah Kota Bekasi terus mendorong percepatan pembangunan Flyover Bulak Kapal yang ditargetkan rampung pada triwulan pertama 2028.
Proyek infrastruktur dengan nilai anggaran mencapai Rp188 miliar tersebut diproyeksikan menjadi solusi untuk mengurai kepadatan kendaraan sekaligus meningkatkan keselamatan pengguna jalan di salah satu kawasan dengan mobilitas tinggi di Kota Bekasi.
Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan, Agus Harimurti Yudhoyono (AHY), saat meninjau lokasi pembangunan bersama Wali Kota Bekasi Tri Adhianto, Jumat (30/10/2026) kemarin, menegaskan bahwa keberadaan flyover sudah menjadi kebutuhan mendesak.
Pasalnya, kawasan perlintasan sebidang Bulak Kapal setiap hari dihadapkan pada tingginya volume kendaraan yang harus bergantian melintas dengan perjalanan kereta api. Frekuensi perjalanan Kereta Rel Listrik (KRL) yang melintas setiap lima menit membuat arus lalu lintas kerap tersendat.
Kondisi tersebut tidak hanya berdampak pada waktu tempuh masyarakat, tetapi juga menyangkut aspek keselamatan transportasi.
AHY menjelaskan, pembangunan flyover direncanakan berlangsung selama 16 bulan dengan target penyelesaian pada awal 2028. Pemerintah juga berupaya mempercepat sejumlah tahapan pekerjaan, terutama penyelesaian pembebasan lahan dan pemindahan utilitas.
“Pelaksanaan direncanakan 16 bulan. Ditargetkan pada triwulan pertama 2028 selesai. Mudah-mudahan kita bisa lakukan percepatan, lahan selesai, utilitas selesai, kita coba lakukan percepatan-percepatan,” kata AHY.
Menurut AHY, pembangunan tersebut bukan semata-mata menghadirkan infrastruktur baru, melainkan bagian dari upaya pemerintah menciptakan sistem transportasi yang lebih aman dan nyaman bagi masyarakat.
Terlebih, risiko kecelakaan di perlintasan sebidang menjadi perhatian serius. Peristiwa kecelakaan maut antara KRL dan taksi daring di kawasan Bekasi Timur pada April 2025 menjadi salah satu pengingat pentingnya peningkatan keselamatan di kawasan perlintasan kereta api.
Flyover Bulak Kapal nantinya dirancang memiliki panjang sekitar 500 meter. Desain konstruksinya juga memperhatikan aspek keselamatan operasional kereta api, termasuk penyediaan ruang bebas atau clearance dengan ketinggian sekitar 7,5 meter.
Pemerintah pusat melalui koordinasi Kementerian Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan bersama Kementerian Pekerjaan Umum turut memberikan dukungan terhadap realisasi proyek tersebut.
Pembebasan Lahan Jadi Kunci Percepatan
Di sisi lain, Wali Kota Bekasi Tri Adhianto memastikan Pemerintah Kota Bekasi terus berupaya menuntaskan tahapan pembebasan lahan agar pembangunan dapat berjalan sesuai jadwal.
Dari total 76 bidang tanah yang dibutuhkan, sebanyak 40 bidang telah selesai dibebaskan. Sementara 36 bidang lainnya masih dalam proses penyelesaian, termasuk lahan milik Perum Jasa Tirta (PJT), Kementerian Sosial, serta sejumlah fasilitas sosial dan fasilitas umum.
Tri menilai, secara keseluruhan persiapan pembangunan masih berjalan sesuai tahapan yang telah direncanakan.
“Kalau melihat tahapannya, rasanya on the track. Kontraknya nanti tanggal 14 November, berarti 15 November seharusnya sudah bisa berjalan,” ujarnya.
Pemkot Bekasi menargetkan seluruh proses administrasi dan pembebasan lahan dapat diselesaikan pada awal November 2026. Koordinasi dengan pemerintah pusat terus dilakukan agar tidak ada tahapan yang menghambat pelaksanaan proyek.
Jalan Alternatif Disiapkan, Dua Perlintasan Bakal Ditutup
Selain mempersiapkan pembangunan fisik, Pemerintah Kota Bekasi juga mulai mengantisipasi dampak pekerjaan terhadap aktivitas masyarakat.
Rekayasa lalu lintas disiapkan dengan memanfaatkan Jalan Ampera dan Jalan Moh. Yamin sebagai jalur alternatif. Langkah ini diharapkan dapat menjaga kelancaran mobilitas warga selama proses konstruksi berlangsung.
Pemkot Bekasi juga menjalin komunikasi dengan PT Kereta Api Indonesia (KAI) terkait kemungkinan pemanfaatan jalan frontage di sepanjang jalur kereta api. Pemanfaatan akses tersebut diharapkan dapat memperkuat konektivitas kawasan sekaligus memberikan pilihan jalur bagi pengguna jalan.
Tak berhenti sampai di situ, Tri Adhianto mengungkapkan bahwa setelah Flyover Bulak Kapal beroperasi, pemerintah berencana menutup dua perlintasan sebidang, yakni di kawasan Bulak Kapal dan Ampera.
Rencana penutupan tersebut menjadi bagian dari langkah jangka panjang untuk meminimalkan potensi kecelakaan antara kendaraan dan kereta api.
Dengan berbagai tahapan yang terus dipersiapkan, pembangunan Flyover Bulak Kapal diharapkan menjadi jawaban atas persoalan kemacetan yang selama ini dirasakan masyarakat.
Lebih dari sekadar proyek konstruksi senilai ratusan miliar rupiah, kehadiran flyover ini membawa harapan baru bagi warga Kota Bekasi: perjalanan yang lebih lancar, konektivitas yang semakin baik, serta lingkungan transportasi yang lebih aman bagi seluruh pengguna jalan. (pede)







