BEKASIPEDIA.com | KOTA BEKASI – Suara musik mengalun dari panggung utama Plaza Patriot Candrabhaga, Kota Bekasi, Sabtu (20/6/2026) malam. Di sudut lain, goresan warna-warni para seniman mural menghiasi kanvas besar, sementara ratusan warga larut dalam suasana yang memadukan seni, sejarah, dan semangat kebangsaan.
Malam itu, Bung Karno seakan hadir kembali di tengah masyarakat Bekasi.
Dalam rangka puncak peringatan Bulan Bung Karno, DPC PDI Perjuangan Kota Bekasi menggelar Bekasi Soekarno Festival 2026 bertema “Membumikan Bung Karno di Kota Bekasi”.
Festival yang berlangsung selama dua hari, 20-21 Juni 2026, menjadi ruang bersama bagi masyarakat untuk mengenang sekaligus memahami kembali nilai-nilai perjuangan Sang Proklamator melalui pendekatan seni dan budaya.
Berbagai elemen kreatif dilibatkan dalam festival ini. Mulai dari komunitas mural, seniman teater, penyair, musisi hingga pegiat budaya turut ambil bagian menghadirkan karya-karya yang merefleksikan pemikiran dan semangat perjuangan Bung Karno.
Pada malam puncak, rangkaian acara diawali dengan doa bersama untuk Bung Karno. Selanjutnya, masyarakat disuguhkan pertunjukan seni budaya, pemutaran film dokumenter tentang perjalanan hidup Presiden pertama Republik Indonesia tersebut, pementasan teater, hingga pembacaan puisi yang dibawakan Peri Sandi Huizche.
Suasana semakin meriah ketika sejumlah musisi tampil menghibur pengunjung. Penampilan Jenia, G7 Band, hingga penyanyi Once Mekel sukses menghidupkan atmosfer kebersamaan yang menjadi ciri khas festival tersebut.
Di hadapan peserta yang memadati area acara, Ketua DPC PDI Perjuangan Kota Bekasi Tri Adhianto mengingatkan bahwa peringatan Bulan Bung Karno seharusnya tidak berhenti pada seremoni tahunan semata.
Menurutnya, yang jauh lebih penting adalah bagaimana masyarakat mampu menerjemahkan nilai-nilai perjuangan Bung Karno dalam kehidupan sehari-hari.
“Kalau hanya memperingati, biasanya kita ikut upacara, hormat, lalu pulang, itu hanyalah seremonial. Membumikan Bung Karno berarti kita mengambil intisari nilai perjuangannya dan menjadikan pemikirannya sebagai kompas dalam kehidupan sehari-hari,” ujarnya.
Tri yang juga menjabat sebagai Wali Kota Bekasi menilai perjalanan Bung Karno dalam memperjuangkan kemerdekaan Indonesia merupakan bukti bahwa perubahan besar lahir dari kerja kolektif dan keyakinan terhadap cita-cita bersama.
Menurutnya, Bung Karno tidak membangun bangsa seorang diri. Di sekelilingnya ada banyak orang yang memiliki optimisme dan keyakinan bahwa masa depan yang lebih baik dapat diwujudkan melalui kerja keras dan gotong royong.
Semangat itulah yang, menurut Tri, perlu terus dihidupkan dalam pembangunan Kota Bekasi maupun dalam kehidupan bermasyarakat saat ini.
Ia juga menyampaikan apresiasi kepada seluruh komunitas mural, seniman, musisi, penyair, komunitas kreatif, dan panitia yang telah berkontribusi menjadikan festival tersebut sebagai ruang ekspresi budaya sekaligus refleksi sejarah bagi masyarakat.
Tri berharap Bekasi Soekarno Festival dapat menjadi agenda tahunan yang terus berkembang dan semakin memberikan manfaat bagi warga.
“Mudah-mudahan Soekarno Festival bisa dilaksanakan di tahun berikutnya. Sehingga persiapan ini menjadi lebih baik, lebih meriah, dan memberikan nilai manfaat buat kita bersama,” katanya.
Sementara itu, Ketua Panitia Bekasi Soekarno Festival Ahmad Faisyal Hermawan mengatakan, pendekatan seni dan budaya sengaja dipilih agar pesan-pesan perjuangan Bung Karno dapat lebih mudah diterima generasi muda.
Menurutnya, bangsa yang besar tidak boleh melupakan sejarah, terlebih terhadap sosok yang memiliki peran besar dalam merebut kemerdekaan Indonesia.
Melalui festival ini, kata Faisyal, masyarakat diajak untuk mengenal Bung Karno bukan hanya sebagai tokoh sejarah, tetapi juga sebagai sumber inspirasi tentang patriotisme, persatuan, dan gotong royong.
“Harapan kami, jiwa patriotik dan budaya gotong-royong Bung Karno ini dapat melekat sekaligus membumi di Kota Bekasi,” ujarnya.
Bekasi Soekarno Festival 2026 pada akhirnya bukan sekadar panggung hiburan atau peringatan tahunan. Di balik denting musik, warna mural, dan pertunjukan seni yang ditampilkan, tersimpan pesan tentang pentingnya merawat ingatan kolektif bangsa.
Sebab, sebagaimana pesan Bung Karno yang terus dikenang hingga kini, bangsa yang besar adalah bangsa yang tidak pernah melupakan sejarahnya. Di Kota Bekasi, pesan itu kembali disuarakan melalui bahasa yang paling dekat dengan masyarakat: seni, budaya, dan kebersamaan. (pede)





