Bang Pede, Wartawan & Owner BEKASIPEDIA Grup Kecam Pendemo yang Tuding Media Baru Mau Meliput Kalau Ada Imbalan

oleh -518 Dilihat
oleh
Sejumlah pemuda yang mengaku mahasiswa menggelar aksi massa dengan mengatasnamakan Forum Komunikasi Intelektual Muda (Forkim), Ikatan Pemuda Bekasi (IPB) dan lain sebagainya, di depan Kantor Wali Kota Bekasi, Jl. Ahmad Yani, Bekasi Selatan, Kota Bekasi, Jawa Barat. (ist)

BEKASI SELATAN, BEKASIPEDIA.com – Bang Pede, influencer yang juga wartawan mengecam tuduhan yang menyatakan bahwa wartawan di Kota Bekasi sudah tidak netral dan mau meliput jika ada imbalan oleh orator demonstran di depan kantor Pemerintah Kota Bekasi pada Kamis (21/9/2023) kemarin.

Bahkan menuding wartawan telah kongkalikong dengan mantan Wali Kota Bekasi, Tri Adhianto sehingga dinilai tidak netral.

Untuk itu, pria yang juga owner dari media BEKASIPEDIA Grup ini minta agar demonstran tersebut untuk segera meminta maaf.

“Dengan mengatakan wartawan tidak netral dan kongkalikong dengan mantan Wali Kota Bekasi Tri Adhianto adalah tuduhan fitnah dan tidak berdasar. Apalagi menyebutkan bahwa wartawan mau meliput jika diberikan imbalan. Jangan asal jepkak tong ” ujar Bang Pede, mengetahui soal berita demontrans yang menuding wartawan sudah kongkalikong dengan Tri Adhianto pada Jumat (22/9/2023).

Bang Pede mengatakan, jika demo mereka tidak diliput wartawan berarti demonya tidak menarik untuk diberitakan bukannya malah menuding sudah kongkalikong dengan Mantan Wali Kota Bekasi Tri Adhianto.

“Tidak ada kewajiban setiap ada demo, wartawan harus meliput. Tergantung wartawan dan medianya apakah tuntutan para demonstran itu menarik bagi wartawan untuk meliputnya. Seharusnya, para demonstran itu fokus saja pada tuntutan aspirasinya, jangan melebar menuding yang tidak-tidak kepada insan pers,” tandasnya.

Dia mengatakan, bahwa tuduhan itu tidak berdasar dan tanpa bukti dan sangat melukai perasaan seluruh insan pers di seluruh Indonesia.

Dalam liputan, sambungnya, ada komposisi berita iklan yaitu kerjasama baik pihak swasta maupun pemerintah daerah nah itu baru yang wajib diliput karena ada kontrak kerjasama.

“Itu sah-sah saja untuk kerjasama karena pers juga bagian dari industri, namun tetap melakukan fungsinya sebagai sosial kontrol sekaligus memberikan informasi dan hiburan bagi masyarakat luas,” jelas pria yang juga kerap NgeMC ini.

Selain itu, dirinya pun menyatakan, tudingan yang dilontarkan salah satu orator terkait profesi wartawan tidak ada korelasi dengan tuntutan aksi mereka. Seharusnya mereka fokus dengan aspirasi yang mereka punya.

“Mereka memangnya paham soal Tugas Pokok & Fungsi Jurnalis? Jadi segera lah meminta maaf kepada organisasi wartawan minimal kepada seluruh insan pers yang ada di Kota Bekasi,” katanya lagi.

Dia menambahkan, profesi wartawan merupakan bagian dari pilar keempat demokrasi, yang dimana sangat diperlukan untuk menjaga stabilitas wilayah dan negara sekaligus mencerdaskan anak bangsa.

“Profesi wartawan sangat mulia dan dilindungi undang-undang Pers No. 40 Tahun 1999. Ucapan orator bisa menjadi ‘bumerang’ untuk dirinya dan massa aksi yang lain,” tandasnya.

Untuk diketahui, sebelumnya pada Kamis (21/9/2023), sejumlah pemuda yang mengaku mahasiswa menggelar aksi massa dengan mengatasnamakan Forum Komunikasi Intelektual Muda (Forkim), Ikatan Pemuda Bekasi (IPB) dan lain sebagainya, di depan Kantor Wali Kota Bekasi, Jl. Ahmad Yani, Bekasi Selatan, Kota Bekasi, Jawa Barat.

Dalam orasinya, pendemo mengungkapkan kekecewaanya terhadap kepemimpinan Tri Adhianto saat menjabat Plt Walikota Bekasi maupun saat menjadi Walikota Bekasi yang dinilai meninggalkan noda di pemerintahannya.

Namun ada hal yang sangat disayangkan ketika salah satu massa aksi yang sedang orasi menuding bahwa wartawan sudah dibeli oleh mantan Wali Kota Bekasi, Tri Adhianto Tjahyono.

“Kalau wartawan tidak meliput aksi kita hari ini, berarti mereka sudah ‘kongkalikong’ dan di beli oleh bapak Tri Adhianto Tjahyono,” ucap orator bernama Wili, mahasiswa Mikar.

Selain itu, orator tersebut pun menuding bahwa saat ini wartawan tidak lagi netral dan akan meliput kegiatan apabila diberikan imbalan berupa uang.

“Tidak munafik bahwasanya hari ini banyak rekan-rekan media yang bermitra dengan bapak Tri Adhianto Tjahyono demi memuluskan jabatan Tri Adhianto. Hari ini dipertanyakan Kode Etik Jurnalistik bahwasanya wartawan sudah tidak lagi netral kawan-kawan, tetapi siapa yang bayar di situ kita liput. Begitu kawan-kawan,” ajak Wili yang infonya berhimpun di organisasi HMI Kota Bekasi. (jek)