BEKASIPEDIA.com – Geoffrey Hinton, ilmuwan yang dikenal sebagai “Bapak AI”, memperkirakan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) akan membawa dampak besar terhadap dunia kerja pada 2026, termasuk menggantikan banyak jenis pekerjaan manusia.
Dalam wawancara dengan CNN, yang dilansir pada Senin (26/1/2026), Hinton menyatakan kemampuan AI berkembang sangat cepat.
Menurutnya, teknologi ini kini sudah menggantikan pekerja di sektor tertentu, seperti pusat layanan pelanggan, dan akan terus merambah ke berbagai bidang lain.
“Setiap tujuh bulan atau lebih, AI mampu melakukan tugas dengan tingkat kesulitan sekitar dua kali lipat,” kata Hinton.
Ia mencontohkan bidang pemprograman, di mana AI kini dapat mengerjakan tugas yang sebelumnya memakan waktu satu jam, dan ke depan berpotensi menangani proyek rekayasa perangkat lunak berdurasi berbulan-bulan dengan keterlibatan manusia yang minimal.
Pandangan Hinton sejalan dengan kekhawatiran sejumlah pakar lain. Dikutip dari Slashgear, Direktur riset RethinkX, Adam Dorr, menyebut meski masih akan ada ceruk pekerjaan bagi manusia, jumlahnya tidak cukup untuk menyerap miliaran tenaga kerja global.
Namun, Dorr melihat sisi positif berupa peluang manusia menjalani hidup yang lebih bermakna di luar pekerjaan formal.
Di sisi lain, CEO OpenAI Sam Altman memiliki pandangan lebih seimbang. Dalam wawancara dengan Bloomberg pada tahun lalu, ia menilai AI memang akan menghilangkan sebagian pekerjaan, tetapi juga menciptakan banyak jenis pekerjaan baru seiring berkembangnya teknologi.
Sementara itu, laporan Microsoft pada Agustus 2025 menyebut sejumlah profesi seperti penerjemah, sejarawan, dan petugas penumpang berpotensi paling terdampak AI. Namun, Microsoft menegaskan temuan tersebut tidak dimaksudkan sebagai prediksi pasti hilangnya pekerjaan, melainkan untuk melihat di mana AI paling sering digunakan sebagai alat bantu.
Sejumlah ekonom menilai kekhawatiran publik terhadap AI terasa lebih besar karena istilah dan narasi yang menyertainya.
Sementara itu Direktur Eksekutif Yale University Budget Lab, Martha Gimbel, menyebut hingga kini belum terlihat pola pemutusan kerja yang benar-benar berbeda dari siklus ekonomi normal. (brs/pede)
Nyok Pasang Iklan Banner Anda di Setiap Artikel Hanya Rp 500K/Bulan Silahkan WA ke 0822-4974-0969.
Dapatkan berita dan informasi menarik lainnya di Google News dan jangan lupa ikuti kanal WhatsApp BEKASIPEDIA agar tak ketinggalan update berita menarik setiap hari.





