BEKASIPEDIA.com | KOTA BEKASI – Suasana kehangatan terasa sejak langkah pertama memasuki Aula PWI Bekasi Raya. Tawa ringan, sapaan akrab, dan gelaran daun pisang yang tertata rapi menjadi penanda dimulainya Papajar, tradisi khas Sunda yang digelar Persatuan Wartawan Indonesia Bekasi Raya untuk menyambut datangnya Bulan Suci Ramadhan 1447 Hijriah.
Papajar bukan sekadar agenda organisasi. Tradisi yang telah mengakar kuat di masyarakat Sunda—khususnya di wilayah Cianjur, Sukabumi, dan Bogor—ini menjadi ruang pertemuan batin, tempat silaturahmi dirajut dan kebersamaan dikuatkan.
Digelar satu hingga dua pekan menjelang Ramadhan, Papajar berasal dari makna mapag fajar, menjemput cahaya, simbol kesiapan menyongsong bulan penuh berkah.
Dalam balutan sederhana botram atau makan bersama secara lesehan, seluruh sekat dilebur. Tidak ada perbedaan jabatan atau latar belakang.
Semua duduk sejajar, menyatu dalam suasana kekeluargaan. Nilai inilah yang sejak berabad lalu dijaga oleh masyarakat Sunda.
Secara historis, Papajar telah dikenal sejak abad ke-16, berawal dari kebiasaan berkumpul di masjid untuk menanti kabar awal puasa, lalu berkembang menjadi tradisi makan bersama dan kebersamaan keluarga.
Ketua PWI Bekasi Raya, Ade Muksin, menegaskan bahwa Papajar memiliki makna yang lebih dalam bagi organisasi profesi wartawan tersebut.
Menurutnya, sebagai organisasi berskala nasional, PWI harus menjadi contoh dalam merawat kerukunan dan persaudaraan di tengah keberagaman.
“Kita ini organisasi nasional, sehingga harus mencerminkan kerukunan sesama manusia tanpa memandang latar belakang. Inilah salah satu tujuan kegiatan Papajar kita laksanakan di lingkungan PWI Bekasi Raya,” ujarnya.
Lebih dari itu, Papajar juga menjadi ruang refleksi pribadi. Ade mengungkapkan rasa syukurnya atas kesehatan dan kesempatan yang masih diberikan untuk kembali bertemu Ramadhan.
“Sebagai wujud rasa syukur atas kesehatan dan nikmat yang saya rasakan hingga hari ini, saya ingin membersihkan hati sepenuhnya dalam menyambut bulan suci Ramadhan. Alhamdulillah Allah SWT masih memberi waktu, dan insyaallah mudah-mudahan saya dapat menjalankan puasa dengan baik,” tuturnya dengan penuh harap.
Melalui tradisi sederhana namun sarat makna ini, PWI Bekasi Raya ingin memastikan bahwa Papajar bukan sekadar seremoni tahunan.
Lebih dari itu, ia menjadi momentum untuk mempererat persaudaraan, menumbuhkan semangat kebersamaan, serta menyatukan hati dalam menyongsong Ramadhan—bulan yang mengajarkan keikhlasan, kesabaran, dan kepedulian terhadap sesama. (pede)
Dapatkan berita dan informasi menarik lainnya di Google News dan jangan lupa ikuti kanal WhatsApp BEKASIPEDIA agar tak ketinggalan update berita menarik setiap hari.





