BEKASIPEDIA.com | KOTA BEKASI – Di tengah riuh pertumbuhan urban dan geliat industri yang terus bergerak cepat, Kota Bekasi kembali menegaskan bahwa pembangunan tidak hanya berbicara soal beton, jalan, dan gedung tinggi. Ada satu hal yang tak kalah penting untuk dirawat: seni dan kebudayaan sebagai napas kehidupan kota.
Semangat itu terasa kuat saat Dewan Kesenian dan Kebudayaan Kota Bekasi (DK3B) periode 2026–2030 resmi dilantik oleh Sekretaris Daerah Kota Bekasi, Junaedi, di Gedung Lingkungan Hidup Kota Bekasi, Rabu (13/5/2026).

Pelantikan tersebut bukan sekadar seremoni pergantian kepengurusan, melainkan menjadi penanda dimulainya babak baru perjalanan kebudayaan di Kota Patriot. Pemerintah, seniman, dan komunitas budaya berkumpul dalam satu visi yang sama: menjadikan seni sebagai salah satu pilar utama pembangunan kota yang kreatif, humanis, dan berkarakter.
Ketua DK3B, Alamsyah Pradja, menegaskan bahwa kepengurusan baru akan membawa fokus besar pada tiga agenda utama, yakni pelestarian, pengembangan, dan kolaborasi budaya.
Menurutnya, seni tidak boleh dipandang hanya sebagai hiburan semata, melainkan sebagai identitas dan denyut kehidupan sebuah kota.
“Kedepan kami akan lebih fokus kepada pelestarian, pengembangan, dan kolaborasi. Mulai dari pendokumentasian kesenian tradisional, pemberdayaan para seniman, hingga membangun ekosistem budaya yang inklusif dan produktif,” ujar Alamsyah.

Ia menilai, ruang gerak bagi para pelaku seni harus terus diperluas agar kreativitas masyarakat dapat tumbuh secara berkelanjutan. Sebab, dari ruang-ruang ekspresi itulah lahir karakter kota yang sesungguhnya.
“Seni harus menjadi jantung peradaban kota. Dari budaya, kita membangun rasa, identitas, dan masa depan Kota Bekasi yang lebih berwarna,” tambahnya.
Pesan senada juga disampaikan Wali Kota Bekasi, Tri Adhianto, yang memberikan dukungan penuh terhadap keberadaan DK3B sebagai mitra strategis pemerintah daerah.
Baginya, kebudayaan adalah wajah yang membedakan Kota Bekasi dari kota-kota lain. Di tengah laju pembangunan industri, unsur seni dan budaya justru menjadi jiwa yang menjaga keseimbangan kehidupan masyarakat.
“Kebudayaan merupakan identitas yang membedakan Kota Bekasi dengan kota lain. Industri boleh jadi otot, tapi seni budaya adalah jiwa sebagai pemersatu rasa. Saya meminta DK3B menjadi mitra strategis pemerintah dalam menjaga dan mengembangkan kebudayaan di Kota Bekasi,” tegasnya.

Pelantikan yang diikuti sekitar 47 peserta dari berbagai komite seni berlangsung khidmat namun tetap hangat. Sejumlah pertunjukan seni turut menghidupkan suasana, mulai dari tari tradisional, musik, hingga musikalisasi puisi yang dibawakan para seniman lokal Kota Bekasi.
Panggung sederhana itu seolah menjadi cermin bahwa kebudayaan selalu menemukan jalannya untuk hadir—menghubungkan masa lalu, merawat hari ini, dan menyiapkan masa depan.
Dengan dilantiknya DK3B periode 2026–2030, harapan besar pun disematkan. Bukan hanya menjaga akar seni budaya Nusantara tetap hidup, tetapi juga membuka ruang lebih luas bagi para pelaku seni untuk terus berkarya, berinovasi, dan menjadikan Bekasi sebagai kota yang bukan hanya maju secara fisik, tetapi juga kaya secara rasa dan jiwa. (pede)
Dapatkan berita dan informasi menarik lainnya di Google News dan jangan lupa ikuti kanal WhatsApp BEKASIPEDIA agar tak ketinggalan update berita menarik setiap hari.








