BEKASIPEDIA.com | JAKARTA – Natal tidak selalu hadir dalam gemerlap panggung dan sorak perayaan. Pada Natal Nasional 2025, makna kelahiran Sang Juruselamat justru dihadirkan dalam kesederhanaan yang menyentuh—melalui keluarga yang dikuatkan, yang lemah dirangkul, dan harapan yang dihidupkan kembali di berbagai pelosok Nusantara.
Mengusung tema “Allah Hadir Menyelamatkan Keluarga” (Matius 1:21–24), Panitia Natal Nasional 2025 menegaskan bahwa Natal bukan sekadar perayaan liturgis, melainkan peristiwa iman yang bekerja nyata dalam kehidupan sehari-hari.
Kasih Allah tidak berhenti di altar dan doa, tetapi menjelma menjadi solidaritas sosial, kepedulian terhadap korban bencana, serta komitmen membangun masa depan keluarga Indonesia.
Pesan kebersamaan itu juga digaungkan oleh Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto, dalam sambutannya di Jakarta, Senin (5/1/2026).
Ia menekankan bahwa keberagaman yang dimiliki Indonesia adalah kekuatan utama bangsa.
“Di bumi Nusantara, agama yang berbeda-beda tetapi kita bisa bersatu dan hidup sebagai satu bangsa, satu nusa dan satu bahasa, dengan niat yang sama, yaitu meraih kehidupan yang baik bersama,” ujar Presiden.
Di tengah dunia yang dilanda ketidakpastian global, Presiden mengajak seluruh masyarakat untuk mensyukuri anugerah damai yang masih dirasakan bangsa Indonesia.
“Di tengah dunia yang penuh gejolak dan perang di mana-mana, kita patut bersyukur bahwa bangsa kita sampai hari ini tetap berada dalam keadaan damai,” tambahnya.
Natal yang Memberi Ruang bagi Mereka yang Setia Melayani
Puncak Perayaan Natal Nasional 2025 berlangsung khidmat dengan menghadirkan sekitar 3.000 tamu kehormatan secara luring.
Mereka bukan figur populer atau artis nasional, melainkan sosok-sosok yang selama ini setia melayani dalam senyap: anak-anak Sekolah Minggu, guru Sekolah Minggu, koster gereja, guru agama, anggota paduan suara, anak yatim piatu, serta penyandang disabilitas Kristen–Katolik.
Kehadiran mereka menjadi simbol bahwa Natal Nasional 2025 memusatkan perhatian pada mereka yang sering berada di pinggir sorotan, namun memegang peran penting dalam kehidupan gereja dan masyarakat.





