Bangunan Bersejarah yang Terlupakan dan Tanpa Perhatian Pemkab Bekasi

oleh -1495 Dilihat
oleh
Gedung Juang Bekasi. (ist)

TAMBUN SELATAN, BEKASIPEDIA.com – Gedung Juang Bekasi terlihat jelas saat melintasi Jalan Sultan Hasanudin Setiadarma, Kecamatan Tambun Selatan, Kabupaten Bekasi, Jawa Barat. Gedung Juang itu menjadi salah satu bangunan ikonik yang bersejarah di Bekasi. Bangunan yang didominasi berwarna putih itu juga dikenal dengan nama Landhuis Tamboen itu punya gaya arsitektur Art Deco.

Gedung Juang itu memilik dua lantai, dengan masing-masing lantai memilik empat ruangan. Untuk kelantai dua, ada tangga bergaya khas bangsawan. Dinding di dalam gedung itu juga didominasi dengan keramik berwarna cokelat dan bermotif bunga.

Sementara itu dalam area Gedung Juang itu, ada juga bangunan Museum Bekasi yang berisi sejumlah foto-foto dan barang-barang bersejarah.

Tidak hanya itu, ada juga kantor Koperasi Wredatama RI Kabupaten Bekasi (KOWARKASI), Markas Cabang Leguin RI Kabupaten Bekasi, Kelompok Kerja Sadar Wisata (Pokdarwis).

Sementara itu di halaman depan gedung, ada tugu berbentuk keran air dan tugu perjuangan bergambar para pejuang dengan memegang senjata. Namun, keberadaan Gedung Juang Bekasi itu nampak dipandang sebelah mata.

Sedangkan terpantau kondisi Gedung Juang Bekasi yang memilik dua lantai itu terlihat kurang terawat.

Nampak lantai berdebu, bahkan pada lantai dua banyak sekali sejumlah kotoran kelelawar. Bau kelelawar atau kampret itu juga sangat tercium tidak sedap. Tak hanya itu, plafon atau atap gedung itu juga banyak yang rusak.

Dalam Gedung Juang itu kosong tak ada benda bersejarah atau foto-foto bersejarah. Sejumlah kaca jendala juga ada yang pecah. Tentunya kondisi dipandang sangat miris, gedung yang penuh sejarah itu seperti tak mendapatkan perhatian dari Pemerintah Kabupaten Bekasi.

Seorang Sejarahwan Bekasi, Ali Anwar mengungkapkan bangunan bergaya arsitektur Ard Deco ini memiliki luas lahan 13.900 meter persegi dengan luas bangunan mencapai 1.177 meter persegi.

Bangunan itu awalnya milik Khouw Tjeng Kie seorang bangsawan dari China dan tuan tanah Luitenant der Chinezen. Mereka diperkirakan datang atau mendirikan bangunan itu pada tahun 1900. Pada saat ini mereka menyewa lahan pemerintah untuk lahan pertanian, oleh sebabnya dibangun gedung itu. “Dulu kan pemerintah menyewakan lahan-lahan untuk pertanian. Jadi mereka punya lahan bisa ratusan hektare.

Gedung itu buat tinggal dan juga pantau perkebunan dan pertanian mereka,” ujar Ali Anwar seperti dilansir Rabu (21/8/2019) dari Tribunnews.com.