Sistem PPDB SMP Negeri di Bekasi, Jarak Rumah-Sekolah Maksimal Satu Kilometer

oleh -300 views
Pendaftaran Penerimaan Siswa Baru. (ist)

JATIASIH, BEKASIPEDIA.com – Sejumlah calon siswa yang memanfaatkan jalur zonasi murni telah tereleminasi dari sekolah tujuan pertamanya sejak dua hari pembukaan pendaftaran dibuka pada Selasa (2/7/2019) kemarin. Berdasarkan hasil seleksi sementara di mayoritas sekolah, rata-rata radius terjauh tempat tinggal calon siswa dengan lokasi sekolah tak sampai satu kilometer.

Salah satu pendaftar yang tereliminasi di sekolah tujuan pertamanya ialah Andrian, lulusan SDN Jatiasih VIII. Calon siswa yang berdomisili di Kelurahan Jakasetia, Kecamatan Bekasi Selatan itu menjatuhkan pilihan pertamanya ke SMPN 12 yang sama-sama berada di Kecamatan Bekasi Selatan.

Sejak hari pertama masa pendaftaran dibuka, ibu Andrian, Lis, langsung mendaftarkan putra pertamanya itu ke SMPN 12 dengan jarak 2 kilometer dari tempat tinggalnya.

“Sampai tadi pagi, nama anak saya masih ada di data sementara calon siswa yang terdaftar di SMPN 12, tapi sudah urutan buncit. Menjelang siang, nama anak saya sudah hilang karena pendaftar lain jarak sekolah dengan rumahnya sudah semakin kecil,” kata Lis, di SMPN 12, dengan nada sedih, Kamis (4/7/2019).

Mengetahui hal tersebut, ia bergegas kembali mendaftarkan nama sang anak ke sekolah tujuan kedua, yakni SMPN 53 yang merupakan unit sekolah baru. Dengan jarak yang lebih dekat, yakni 675 meter, besar harapan agar Andrian bisa diterima.

“Tapi ini juga masih belum tenang, soalnya pendaftaran masih dibuka, anak saya posisinya sudah hampir di urutan buncit lagi, yakni posisi 73 dari daya tampung 81 kursi,” ucapnya.

Tak berbeda jauh dengan Lis, Evi yang merupakan ibu dari Rayyan juga harus merelakan impian menyekolahkan anaknya ke SMPN 12. Bahkan nama Rayyan sudah tereliminasi pada hari pertama PPDB SMP, Senin, 1 Juli 2019 lalu.

“Dikira kalau jarak ke sekolah hanya 1,8 kilometer itu anak saya bisa aman posisinya untuk dapat bangku di SMPN 12. Ternyata pendaftar lain banyak yang jauh lebih dekat ke sekolah,” katanya.

Dalam kebingungan gagal meloloskan anaknya ke sekolah tujuan awal, ia mendapat informasi seputar kehadiran SMPN 53 yang baru dioperasikan tahun ini. SMPN 53 merupakan unit sekolah baru yang menginduk pada SMPN 12.

“SMPN 53 ternyata lebih dekat dengan rumah, sehingga peluang diterimanya lebih besar. Namun yang menjadi kekhawatiran, bangunannya masih menyatu dengan bangunan sekolah dasar, takut anaknya minder kalau belajar bersama murid SD,” katanya. (*)