Puluhan Bayi di Jatiasih dan Medan Satria Terbanyak Meninggal dalam Setahun

oleh -393 views
Ilustrasi Bayi.

BEKASI SELATAN, bekasipedia.com – Sebanyak 52 bayi tercatat meninggal dunia selama kurun setahun pada 2017 lalu. Domisili bayi yang meninggal dunia paling banyak dari dua kecamatan yakni Jatiasih dan Medan Satria.

Kepala Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil Kota Bekasi Taufik Hidayat mengatakan jumlah bayi yang meninggal dunia di wilayah Jatiasih mencapai 12 bayi sedangkan Medan Satria ada enam bayi.

Sementara itu kecamatan yang berhasil menekan angka kematian bayi ada di Kecamatan Bekasi Barat, Bekasi Selatan, Rawalumbu dan Jatisampurna.

“Wilayah kecamatan tersebut paling rendah dibanding Jatiasih dan Medan Satria,” kata Taufik seperti dilansir Rabu (20/3/2019).

Menurut dia kematian bayi dinilai paling sensitif terhadap perubahan tingkat kesehatan dan kesehjateraan masyarakat. Pada dasarnya, tingkat kematian dipengaruhi oleh faktor sosial ekonomi, pekerjaan, tempat tinggal dan usia.

Berdasarkan hasil data dari dinasnya, penyebab kematian bayi pada umumnya dilaporkan karena terserang penyakit infeksi pernapasan akut (Ispa) dan diare. Adapun penyakit itu berasal dari kuman yang menyerang saluran pernapasan dan proses pencernaan.

“Untuk kematian orang dewasa yang kami rekap dari instansi terkait paling banyak penyakit menular dan penyakit kronis,” ungkapnya.

Kematian bayi di Kota Bekasi berdasarkan data dari Disdukcapil Kota Bekasi pada 2015 sampai 2017 cenderung dinamis.

Pada 2015 kematian bayi di sana mencapai 76 bayi, lalu pada 2016 menurun menjadi 49 bayi. Namun pada 2017 lalu, kematian bayi kembali naik menjadi 52 bayi.

Ketua Jaringan Indonesia Positif, Festika Rosani menambahkan, kematian bayi yang disebabkan karena dampak penyakit orangtua juga ada, namun frekuensinya sedikit. Biasanya, penyakit yang ditularkan orangtua adalah HIV AIDS. “Memang ada bayi yang dunia yang ditularkan dari orangtua, tapi ada juga yang masih hidup sampai sekarang,” ujar dia.

Menurut dia, biasanya bayi yang masih hidup dengan penyakit demikian karena daya tahan tubuhnya (CD4) masih tinggi. Termasuk, kata dia, tidak adanya infeksi oportunistik (io). “Nah kalau yang sudah meninggal karena sudah terkena IO jadinya tidak bisa bertahan hidup,” katanya.

Atas kejadian ini Festika mengimbau, setiap orangtua yang sudah mengidap HIV/AIDS sebaiknya rutin melakukan pengobatan ke sejumlah klinik CVT yang sudah ada di Kota Bekasi. Salah satunya dengan cara mengikuti program ibu ke janin. “Kita ingin penyebaran virus itu bisa ditekan sedikit mungkin dengan seringnya melakukan pengobatan,” jelasnya. (*)