Menengok Kemegahan Masjid Agung Al-Barkah Ikonnya Kota Bekasi

oleh -131 views
Masjid Agung Al-Barkah. (ist)

BEKASI SELATAN, BEKASIPEDIA – Indonesia memiliki beragam destinasi wisata yang sangat menarik untuk dikulik dan dilirik. Mulai dari wisata alam, edukasi, sejarah, hingga wisata religi. Dari keseluruhan tersebut, wisata religi bisa menjadi pilihan yang tepat untuk dilakoni sebagai ibadah sembari berwisata. Kegiatan ini sangat bermanfaat, karena selain dapat meningkatkan keimanan juga bisa menambah khazanah sejarah Islam di Tanah Air.

Dari sekian banyak wisata religi yang ditawarkan, wisata religi berbasis masjid menjadi salah satu yang paling banyak peminatnya. Program ini pun telah diluncurkan secara resmi oleh Dewan Masjid Indonesia (DMI). Guna lebih menghidupkan suasana masjid sebagai basis wisata religi, mesti ada unsur yang perlu diperhatikan, baik itu dari segi sejarah, arsitektur bangunan, maupun kegiatan yang dilaksanakan di masjid tersebut. Semua itu bisa menjadi daya tarik bagi masyarakat untuk berkunjung ke sana.

Indonesia sendiri memiliki banyak masjid yang menjadi destinasi wisata religi yang tersebar di sejumlah daerah. Sebut saja Masjid Istiqlal dan Masjid Agung Sunda Kelapa (Jakarta), Masjid Dian Al-Mahri/Kubah Emas (Depok), Masjid Agung Nurul Yaqin/Masjid 1.000 Pintu (Tangerang), Masjid Jogokariyan (Yogyakarta), Masjid Al-Azhar/masjid tak berkubah dan Masjid Agung Al-Barkah (Bekasi), dan masih banyak yang lainnya.

Masjid Agung Al-Barkah

Sebagai salah satu masjid tertua dan bersejarah, Masjid Agung Al-Barkah yang terletak di alun-alun Kota Bekasi, Jawa Barat, cukup memikat banyak pengunjung baik dari dalam maupun luar daerah.

Selain mengandung nilai-nilai sejarah, arsitektur yang megah serta kegiatan masjid yang bermanfaat, menjadikan masjid Al-Barkah selalu ramai didatangi pengunjung khususnya di bulan suci Ramadan.

Masjid yang dipelopori oleh H Abdul Hamid ini didirikan pada tahun 1890 di sebuah tanah wakaf seluas 3.000 m2 milik H Barun. Pada awal berdirinya, rupa masjid hanya sebatas bangunan biasa. Barulah pada 1967 dibangun menyerupai bentuk masjid pada umumnya.

Selama perjalanannya, Masjid Al-Barkah sudah mengalami empat kali renovasi, yakni pada 1998, 2002, 2004 dan 2008.

“Renovasi yang paling besar itu pada 2004 saat masih di bawah pimpinan almarhum Pak H Ahmad Zurfaih, Wali Kota Bekasi. Renovasi pertama itu dari swadaya masyarakat.

Kemudian dari 2004 sampai sekarang ada sumber dari pemerintah dan juga swadaya dari jamaah masyarakat sekitar,” ujar Ketua Badan Pengelola Masjid Agung Al-Barkah, Wahyu Alamsyah.

Menurutnya, pemberian nama Al-Barkah yang memiliki arti berkah, mengandung makna memberi keberkahan kepada setiap insan. Pemberian nama juga tak terlepas dari sejarah perjuangan warga setempat (Kampung Duaratus) yang mana pada zaman penjajahan Jepang, mereka rela mengorbankan nyawa demi merebut kemerdekaan.

“Memang dulunya para pejuang Islam termasuk pejuang yang pernah terjadi di satu rel KA di Bekasi dibantai oleh Jepang, itu termasuk pejuang dari Kampung Duaratus. Jadi, Insya Allah dengan kejadian seperti itu kita mengharap suatu keberkahan. Sehingga muncul dari situlah nama Masjid Al-Barkah, menjadi berkah,” paparnya.

Dalam hal desain bangunan, lanjut Wahyu, Masjid Agung Al-Barkah mengusung konsep klasik modern yang merupakan perpaduan antara seni Eropa dan Jepara. Banyak dari materialnya yang bahkan dipesan langsung dari Jepara. Tinggi menara masjid juga disebutkan mencapai 33 meter yang melambangkan jumlah zikir tasbih, tahmid dan takbir seusai salat.

Sepanjang halaman dan kebun, dihiasi dengan berbagai jenis tanaman yang menambah estetika masjid. Salah satunya adalah pohon kurma yang selalu berbuah setiap tahunnya. Ini pun menjadi keunikan tersendiri yang membedakan Al-Barkah dengan masjid lainnya.

Selain merenovasi tata ruang, jalan dan fasilitas lain, Masjid Al-Barkah juga mengalami penambahan luas yang sangat signifikan, yakni menjadi 7.318 m2. Hal ini tidak terlepas dari keinginan pemerintah daerah untuk menjadikan Masjid Al-Barkah sebagai masjid agung yang representatif sekaligus ikon Kota Bekasi.

“Masjid kita bisa menampung sebanyak 2.500 jamaah. Saat Ramadan jumlahnya bisa mencapai 2.000 jamaah dan biasanya akan semakin banyak saat menjelang akhir. Karena kegiatan tarawih kita satu malam itu satu jus. Jadi, satu bulan itu kita bisa khatam Alquran. Artinya, selama tarawih 30 hari, 30 juz dibaca,” tuturnya.

Dengan banyaknya hal menarik yang bisa dikupas dan ditawarkan, Masjid Agung Al-Barkah lanjut Wahyu, tentunya bisa menjadi salah satu tujuan alternatif wisata religi bagi masyarakat Ibu Kota yang ingin menambah pengetahuan agama, terutama tabungan pahala selama bulan suci Ramadan. (ist/okz)

Berikut ini liputan Fakta Menarik di Masjid Agung Al-Barkah yang dibuat oleh mahasiswa magang dari Akademi Komunikasi Media Radio dan Televisi (AKMRTV) Jakarta dari Tim 3 Kendor yang terdiri dari Hadi Bowo (kamera & editor, Daffa Azrial (kamera & editor), Fauzan Kurnianto (pengisi suara)