Kena Gusur Tol Becakayu, NJOP Rumah Menteri PUPR Diperkirakan Rp 3 Juta

oleh -60 views
Rumah Menteri PUPR Basuki yang berada di Kompleks Pengairan Rawa Semut, Kelurahan Margahayu, Kecamatan Bekasi Timur, Kota Bekasi, akan tergusur dengan proyek strategis nasional (PSN) tol layang Bekasi-Cawang-Kampung Melayu (Becakayu). (ist)

BEKASI SELATAN, BEKASIPEDIA.com – Dinas Perumahan, Kawasan Permukiman dan Pertanahan (Disperkimtan) Kota Bekasi menyebut nilai jual objek pajak (NJOP) di kawasan perumahan milik Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) Basuki Hadimuljono di Kota Bekasi sekitar Rp 3 jutaan per meter.

Rumah Basuki yang berada di Kompleks Pengairan Rawa Semut, Kelurahan Margahayu, Kecamatan Bekasi Timur, Kota Bekasi, akan tergusur dengan proyek strategis nasional (PSN) tol layang Bekasi-Cawang-Kampung Melayu (Becakayu)

“Tadi saya tanya staf kelurahan setempat besaran NJOP nya sekitar Rp 3 jutaan,” kata Kepala Seksi Perencanaan dan Pengadaan Lahan pada Disperkimtan Kota Bekasi, Usman Sufirman, seperti dilansir Kamis (16/5/2019).

Namun demikian, Usman belum mengetahui persisnya besaran NJOP wilayah Kompleks Rawa Semut yang jadi rumah tinggal Menteri Basuki. Sebab ada dokumen lain yang harus diperiksa.

Tetapi, kata dia, perhitungan ganti rugi proyek pembebasan lahan bukan hanya mengacu pada besaran NJOP saja.

Sebab ada nilai pokok lain yang akan ikut dihitung. “Kan ada tim appraisal yang akan menentukan harga ganti rugi, itu tim independen yang ditunjuk pemerintah pusat, bukan Pemerintah Kota Bekasi,” katanya.

Tergusurnya rumah Menteri PUPR ini karena imbas dari usulan trase Pemerintah Kota Bekasi yang menolak tol layang ini melintasi jalan protokol yakni Jalan Ahmad Yani.

“Untuk rumah Pak Menteri kabarnya terkena gusur dan masuk ke trase II-B, bukan yang sekarang II-A Jakasampurna-Ahmad Yani,” kata Kepala Bidang Infrastruktur Pengembangan Wilayah (IPW) Badan Perencanaan dan Pembangunan Daerah (Bappeda) Kota Bekasi, Erwin Guwinda.

Pemerintah Kota Bekasi sempat menolak rencana trase tol Becakayu melintasi Jalan Ahmad Yani karena dianggap mengganggu estetika kota.

Awalnya trase tol akan dihubungkan Jalan Ahmad Yani saat berada di persimpangan Bekasi Cyber Park (BCP) hingga ke Bekasi Timur.

Lantaran ada penolakan itu, Pemerintah Kota Bekasi kemudian menawarkan trase lain melintasi Jalan Mayor Hasibuan.

Tepat di belakang ruko Sun City atau Islamic Center di Jalan Hasibuan, trase akan dibangun tepat di atas Jalan Raya Kemakmuran, Kelurahan Kemakmuran, Kecamatan Bekasi Selatan.

Dari Jalan Kemakmuran agar jalan layang tol tersebut sampai di Bekasi Timur, maka jalur akan dibuat melengkung (loop) ke arah Jalan Layang Summarecon Bekasi.

Setelah itu jalur yang akan dibuat tetap melanjutkan trase awal hingga sampai ke Ganda Agung, Bekasi Timur.

Namun usulan itu tidak sepenuhnya diikuti pemerintah pusat.

Saat di Jalan Mayor Hasibuan dan Jalan Chairil Anwar, jalan tol layang ini tetap dibangun sampai wilayah Grand Wisata, Kecamatan Tambun Selatan, Kabupaten Bekasi dengan membentangi Sungai Kalimalang.

“Dihubungkan ke wilayah Tambun Selatan agar warga Kabupaten Bekasi mudah bila bepergian ke Jakarta lewat tol,” ujar Erwin. (*)