Jeritan Orangtua Korban: “Kalau Saya Bisa Jadi Setan, Saya akan Makan Oknum TNI-AL Tersebut”

oleh -520 views
Dengan pengawalan security, pimpinan PT. Hacaca, Chatrine memberikan klarifikasi soal penganiayaan yang terjadi di perusahaanya. (foto: tahar)

TARUMAJAYA, BEKASIPEDIAN.com – Terkait klarifikasi penganiayaan yang dilakukan oleh oknum TNI-AL terhadap warga Kampung Poncol terduga pelaku tindak pencurian di dalam kawasan proyek pembangunan pergudangan milik PT. Hacaca dan kemudian meluas melibatkan banyak massa yang terprovokasi atas tindakan penganiayaan oknum TNI-AL sehingga terjadi aksi balasan penyerangan oleh sekelompok anggota TNI-AL KOPASKA yang berakibat jatuhnya sejumlah korban dari warga Kampung Poncol.

Antisipasi meluasnya permasalahan yang berdampak pada kekhawatiran berulangnya kejadian tersebut, dan menghindari ketersinggungan Wilayah Teritorial TNI-AD Komando Rayon Militer (Koramil) 02/Tarumajaya, Pemerintah Desa Segara Makmur melalui Sekdes Nurmansyah dan Kaur Pemerintahan H. Barip kembali menghadirkan pimpinan PT. Hacaca yang ditempatkan di Aula Kantor Desa Segara Makmur, Kecamatan Tarumajaya, Kabupaten Bekasi, Jawa Barat pada Rabu (4/11/2020) sore.

Selain Chatrine Prajitno dari pihak PT. Hacaca, hadir dalam pertemuan tersebut, Danramil 02/Tarumajaya Kapten Inf. Dicson Abislom, Ketua BPD H. Hussain dan Keluarga dari para Korban kekerasan tersebut.

Pertemuan singkat yang berlangsung hanya sekitar 30 menit tersebut, Danramil 02/Tarumajaya Kapten Inf. Dicson Abislom dengan tegas menyoroti masalah tindak kekerasan dari sisi TNI-nya.

“Jelasnya bahwa TNI itu punya Sapta Marga dan sumpah prajurit. Saya pejabat Danramil tentunya punya teritorial di sini, saya diberikan oleh negara surat perintah untuk membina masyarakat di sini. Yang saya sesali mereka justru bikin rusuh di wilayah teritorial kami,” tegasnya menyesalkan aksi dari oknum TNI-AL tersebut.

Selanjutnya dikatakan bahwa menggunakan fasilitas militer lalu melakukan penyerangan dengan menggunakan senjata api dan penggeledahan ke rumah warga itu tidak dapat dibenarkan kecuali atas perintah negara atau adanya dugaan teroris.

“Nah ini perintah siapa? Kewenangan siapa?”pungkasnya dengan nada tinggi.

Dari pantauan BEKASIPEDIA.com, Chatrine hadir dengan gaun atasan tanpa lengan tampil lugas dan percaya diri dalam memaparkan permasalahan pencurian yang berdampak jatuhnya sejumlah korban luka saat terjadi aksi balasan yang dilakukan oleh sekelompok oknum TNI-AL dari oknum KOPASKA tersebut.

Dia mengatakan, aksi keterlibatan personil anggota TNI-AL karena dipicu massa bersenjata tajam lalu melakukan pengerusakan di dalam kawasan pergudangan milik PT. Hacaca yang terekam lewat CCTV. “Saya juga menyayangkan adanya tindakan dari oknum tersebut, bukti-bukti pencuriannya pun ada pada kami boleh dicek,” ucapnya seraya memperlihatkan gambar yang dicetak dari CCTV.

“Nah, apa yang dilakukan oleh anggota TNI-AL pada saat itu adalah perbuatan dari oknum anggota TNI dan bukan kami, bukan dari PT. Hacacanya, tolong masalah ini dipisahkan, jangan hanya karena kejadiannya ada di tempat kami lalu kami disalahkan,” ujarnya membela diri.

“Terlebih masalah tindakan oknum tersebut itu sudah diketahui oleh pihak TNI-AL dan sudah menindak sesuai dengan prosedur militer, jadi itu di luar kewenangan kami,” jelasnya.

Bertolak belakang dengan apa yang disampaikan Chatrine selaku pimpinan PT. Hacaca. Keluarga dari para korban penganiayaan oknum TNI-AL justru menepis perkataan Chatrine tersebut, menurutnya seperti yang diceritakan Urni di hadapan Danramil dan pihak dari PT. Hacaca, tidak sesuai dengan fakta sebenarnya. Bukti gambar yang diperlihatkan Chatrine adanya sekelompok massa yang datang ke proyek PT. Hacaca dengan membawa senjata tajam itu bukan sebagai pemicu awal, itu terjadi karena dampak penganiayaan yang dilakukan oknum TNI-AL terhadap warga.

“Saya tahu masalahnya, yang ada di gambar itu kejadian kedua, kejadian awalnya, anak saya Gawing dipanggil oleh mandor Haris ke proyek. Dituduh maling di sana anak saya malah dipukuli tentara, tidak terima saya mendatangi tentara tersebut dan menanyakan kenapa anak saya dipukulin, tapi mereka diam semua, terus datang suami saya menanyakan hal yang sama tapi tentara itu tetap bungkam, selanjutnya datang lagi Elon bertanya, tidak dijawab justru Elon dipukulin sampai penuh darah di wajahnya.”

“Kejadian inilah yang kemudian berkembang, memicu kemarahan warga dan teman-teman Elon terlebih ada bahasa oknum tentara AL itu menantang semua teman-teman Elon dan warga yang tidak terima. Lalu terjadilah seperti terekam di CCTV itu,” ucap Urni menjelaskan.

Sayangnya kepergian Chatrine dalam pertemuan tersebut masih menyisakan kekecewaan karena belum tuntasnya hasil pertemuan yang dilaksanakan di Aula Kantor Desa, dan dari salah satu orang tua korban sempat menyatakan akan memakan oknum TNI itu bila dirinya bisa jadi setan. Ungkapan tersebut terlontar saat menceritakan kronologi kejadian yang nyaris merengut nyawa anaknya tersebut.

Masih di tempat yang sama, Ketua BPD H. Hussain dengan nada tinggi merasa dilecehkan dengan sikap Chatrine untuk menyelesaikan masalah penganiayaan oknum TNI diselesaikan di kantor PT. Hacaca, “Itu jelas tidak menghargai sama sekali adanya Pemerintah Desa, karena ini masih mentah, masalah pengobatan dan keberadaan TNI-AL saja masih tidak jelas, harus ada pertemuan lanjutan lagi,” ujarnya kecewa. (tahar)