Gurihnya Lahan Parkir di Dalam Kawasan Wisata Jembatan Cinta Paljaya Tarumajaya

oleh -741 views
Parkiran yang dikelola kelompok tertentu di dalam Kawasan Jembatan Cinta dikeluhkan pengunjung. (ist)

TARUMAJAYA, BEKASIPEDIA.com – Menikmati masa-masa menuju adaptasi keadaan baru (New Normal) pasca pemberlakuan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) Covid-19, ribuan pengunjung kembali memadati Kawasan Wisata Jembatan Cinta yang terletak di Desa Segara Jaya, Kecamatan Tarumajaya, Kabupaten Bekasi, Jawa Barat pada Minggu (28/6/2020) kemarin.

Lonjakan drastis pengunjung yang memadati hampir semua lahan di kawasan wisata tersebut tidak hanya terlihat di Kawasan Jembatan Cinta, Kawasan Sungai Rindu pun tidak luput dari antusias pengunjung untuk menikmati panorama hutan mangrove – Sungai Rindu sambil merasakan sensasi wisata air yang ditawarkan kelompok perahu.

Namun, dibalik keceriaan pengunjung dalam menikmati suasana alam mangrove ternodai oleh mahalnya tarif parkir yang berada di dalam kawasan Jembatan Cinta. Sebut saja Suryadi, warga Pasar Pagi Cilincing, Jakarta Utara. Datang bersama ke-15 rekannya dengan menggunakan delapan kendaraan roda dua dipatok tarif parkir 40.000 rupiah.

Sementara untuk tiket masuk Suryadi juga telah dipinta Rp 5000 per motor dan Rp 2500 per orang.

Ironisnya para pelapak lahan parkir yang mampu meraup hasil ratusan ribu hingga jutaan rupiah diduga tidak sepeserpun memberi hasil pungutan parkir ke pihak pengelola kawasan sehingga bisnis lahan parkirpun diyakini sebagai lahan madu bagi sebagian kelompok.

Berry dan Yani selaku pelaksana pengelola tiketing saat dikonfirmasi BEKASIPEDIA.com tidak menepis adanya pungutan parkir yang terjadi di dalam Kawasan Jembatan Cinta tersebut.  “Ujung-ujungnya kekesalan pengunjung ditumpahkan ke bagian tiketing, tapi keluhan tersebut sudah kami tampung semua. Insya Allah nanti akan ada rapat pembahasan masalah Jembatan Cinta secara menyeluruh,” jelasnya.

Terkait minimnya pemeliharaan dan perbaikan Jembatan Cinta, salah satu warga setempat yang enggan disebut jati dirinya mengatakan bahwa inti permasalahan yang ada di Jembatan Cinta adalah ketidak tegasan pengelola dalam menata dan mengatur kelompok-kelompok yang ada sehingga sehingga terkesan berjalan sendiri-sendiri dalam meraup keuntungan tanpa terusik oleh pengelola kawasan wisata.

“Coba aja dipikir berapa perputaran uang yang dihasilkan dari lahan parkir? dan coba bagaimana bisa kelompok perahu mengambil penumpang lalu bersender di Jembatan Cinta tanpa ada konstribusi sedikitpun kepada pengelola untuk perbaikan dan pemeliharaan jembatan,” katanya heran.

“Dan maaf saja berapa banyak CSR dari perusahaan besar seperti PJB, Astra dan Pelindo dalam penanaman bibit mangrove di Pusat Restorasi Pembelajaran Mangrove selama ini, kemana aliran dana itu mengalir? Sulit, sampai kapanpun kawasan wisata ini gak akan maju bila kelompok yang berada di sana tidak saling bekerja sama dalam menjaga dan memperbaiki Jembatan Cinta,” ungkapnya panjang lebar dengan meminta jati dirinya dirahasiakan. (tahar)