Dolar AS akan Ditinggalkan Beralih ke Yuan China

oleh -117 views


JAKARTA, BEKASIPEDIA – Kerangka kerja sama penggunaan mata uang lokal dalam transaksi perdagangan sudah ditandatangani oleh bank sentral Indonesia dan China.

Dengan kerja sama ini diharapkan transaksi dagang antara Indonesia dan China tak perlu lagi menggunakan dolar AS untuk pembayaran.

Bank Indonesia (BI) dan People’s Bank of China (PBoC) sudah bersepakat untuk mendorong penggunaan mata uang lokal untuk penyelesaian transaksi perdagangan dan investasi langsung.

Kesepakatan ini dilakukan oleh Gubernur BI Perry Warjiyo dan Gubernur People’s Bank of China (PBoC) Yi Gang.

Dalam keterangan resmi BI disebutkan kesepakatan ini dituangkan dalam penandatanganan Nota Kesepahaman hari ini.

“Hal tersebut akan memperluas kerangka kerja sama LCS yang telah ada antara Bank Indonesia dan Bank of Thailand, Bank Negara Malaysia dan Kementerian Keuangan Jepang,” tulis keterangan resmi BI, yang dilansir Kamis (1/10/2020).

Kerja sama ini akan diperkuat melalui sharing informasi dan diskusi secara berkala antara otoritas China dan Indonesia.

Kolaborasi antara People’s Bank of China dan Bank Indonesia ini penting dalam memperkuat kerja sama keuangan bilateral antara Tiongkok dan Indonesia.

Otoritas kedua negara memandang hal tersebut akan berkontribusi positif dalam mendorong penggunaan mata uang lokal untuk penyelesaian perdagangan dan investasi langsung antara kedua negara.

Tidak Bikin Dolar AS Ditinggalkan

Ekonom Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) Bhima Yudhistira mengatakan, adanya kerja sama ini tak serta merta membuat dolar AS ditinggalkan. Sebab, ada sejumlah komoditas yang harga acuannya menggunakan dolar AS.

“Sebenarnya tidak sim salabim ya langsung dolar AS ditinggalkan. Karena beberapa komoditas ekspor ke China saja misalnya nikel dan olahan nikel menggunakan harga acuan dolar per ton nya. Ini urusan B2B di mana pelaku usaha mau menggunakan mata uang selain dolar kalau ada insentifnya,” katanya, Kamis (1/10/2020).

Dia mengatakan, hal lain yang menantang ialah pasokan yuan itu sendiri. Khususnya di daerah-daerah yang berada di daerah pertambangan dan perkebunan berorientasi ekspor.

Menurutnya, jangan sampai pengusaha kesulitan cari yuan karena pasokannya terbatas. Alhasil, kata dia, pengusaha lari ke dolar lagi.

“Tantangan lain juga penggunaan kapal asing untuk ekspor impor sangat dominan, ada 90% aktivitas ekspor impor yang menggunakan kapal asing. Apakah mereka mau terima rupiah dan yuan meskipun tujuan ke China? Belum tentu. Mereka maunya bayar menggunakan dolar. Ini yang harus dicari jalan keluarnya,” jelasnya.

Dari situ, Bima bilang, penggunaan mata uang lokal ini harus dilihat dari berbagai sisi.

Termasuk, perbaikan layanan perbankan, layanan ekspor hingga logistiknya.

Sementara, Direktur Riset CORE Indonesia Piter Abdullah menilai kerja sama antara Indonesia dengan China akan mengurangi kebutuhan dolar AS dalam transaksi perdagangan. (dtc/rus)