Marunda Center Kembali Tersandung Dugaan Pencemaran di Kali Muara Tawar Tarumajaya

Marunda Center Kembali Tersandung Dugaan Pencemaran di Kali Muara Tawar Tarumajaya

Terkait limbah, Nelayan dan Petani menggelar aksi demo dengan membentangkan spanduk di Kali Muara Tawar Desa Pantai Makmur Tarumajaya, Kabupaten Bekasi, Jawa Barat. (foto: tahar)


TARUMAJAYA, bekasipedia.com - Upaya Karang Taruna Kecamatan Tarumajaya, Kabupaten Bekasi melakukan aksi unjuk rasa sebagai tindak lanjut pengaduan para petani tambak dan nelayan wilayah Desa Pantai Makmur dan Desa Segarajaya Kecamatan Tarumajaya, Kabupaten Bekasi, Jawa Barat, terkait pencemaran lingkungan di Perairan Muara Tawar Tarumajaya yang diduga berasal dari Kawasan Industri dan Pergudangan Marunda Center mendapat sandungan dari pemerintahan desa setempat dan juga pihak kepolisian sektor Tarumajaya pada Kamis (10/1/2019) kemarin.

Aksi dilaksanakan di perairan tempat keluarnya pembuangan limbah di Perairan Muara Tawar dengan cara konvoi menggunakan perahu sebagai bentuk kepedulian Karang Taruna terhadap pengaduan masyarakat yang kerap terjadi dan banyak merugikan petani tambak dan nelayan.

"Yang kami tahu. Memang sering terjadi laporan pencemaran air laut yang mengalir ke tambak-tambak melalui sungai dan matinya ikan-ikan di laut dan tambak-tambak milik warga. Beberapa kali juga kami layangkan surat ke pihak Marunda Center tapi tidak ditanggapi," jelas Syamsuri, Ketua Karang Taruna merangkap kordinator aksi kepada bekasipedia.com (KORAN METRO Group) di lokasi aksi.

"Ada beberapa petani tambak dan nelayan yang disodori surat pernyataan tidak ikut aksi ini yang tidak kami mengerti, padahal yang kami perjuangkan di sini adalah tindak lanjut pengaduan petani tambak dan nelayan yang tidak ditanggapi pihak Marinda Centre," ungkap Syamsuri keheranan.

Namun aksi ini mendapat perhatian serius dari Kepolisian Sektor setempat, hadir pada saat dilaksanakannya aksi unjuk rasa, Kapolsek Tarumajaya AKP Agus Rohmat SH. bersama Kanit Intel Ipda Hary Purwoko. SH yang berusaha meredam aksi tersebut dengan mengupayakan adanya mediasi kepihak Marunda Center mengingat pemberitahuan aksi yang dilayangkan Karang Taruna kurang tepat sasaran.

Agus beralasan tidak adanya pemberitahuan ke Kepolisian Daerah (Polda), karena lokasi aksi tersebut masuk hingga ke wilayah perairan. "Tolong jangan ada krisis Kepercayaan terhadap kami. Kami sudah temui pimpinan perusahan dan pihak Marunda Center juga bersedia untuk membahas masalah itu," ucap Hari, Kanit Intel Polsek Tarumajaya kepada Karang Taruna Kecamatan Tarumajaya.

Dari pantauan wartawan hadir di lokasi titik kumpul aksi, jajaran dari Kepolisian Sektor Tarumajaya, Babinsa Koramil 02 Tarumajaya, intel Kodim, intel Korem dan terlihat juga dari Polres Metro Bekasi sementara dari pemerintahaan desa setempat tidak terlihat di lokasi aksi.

Mediasi Tertutup di gedung Marunda Center



Keterwakilan nelayan dan petambak dengan pihak Kawasan Marunda Center, Media dilarang meliput dan hanya diperbolehkan mengambil gambar. (foto: tahar)

Upaya Muspika sebagai pembina Karang Taruna untuk memediasi adanya pertemuan dengan pihak terkait membuahkan hasil setelah pihak kepolisian berjanji akan menangani permasalahan limbah dan mempidakan pihak perusahan bila dikemudian hari terbukti melakukan pembuangan limbah yang berdampak pada pesisir Tarumajaya.

Bersama pihak Kawasan Marunda Center yang dihadiri oleh Iwan Djunaidi dan H. Bahri serta perwakilan dari PT Andalan, Vincent dan Setio Wahono. Kapolsek Tarumajaya AKP Agus Rohmat selaku mediator didampingi Danramil Kapten Inf. Sarwono dan Kepala Desa Pantai Makmur H. Mursan kemudian mengadakan pertemuan tertutup bersama perwakilan petani tambak dan nelayan yang di dampingi Karang Taruna Kecamatan juga mitra Kementrian Lingkungan Hidup dari Masyarakat Peduli lingkungan Hidup Indonesia.

Dari hasil pertemuan tersebut kemudian dibuatkan notulen yang berisikan kesetujuan pihak Marunda Center untuk tidak membuang limbah beracun berbahaya di Perairan Pantai Tarumajaya.

Apabila dikemudian hari terdapat limbah yang berbahaya bagi ikan dan sejenisnya, pihak Marunda Centre siap memfasilitasi pengecekan tersebut disaksikan oleh Muspika, Wakil Karang Taruna, perwakilan nelayan, pihak Marunda Centre dan PT Andalan.

Selanjutnya pihak Marunda Center bersedia membuatkan pintu air apabila sampel yang diambil sebelumnya mengandung B3 yang menyebabkan ikan mati. Saluran air yang dibuat, akan dibuka saat hujan dan ditutup saat air pasang. Dibuatkan jurnal log book.

Terakhir, tuntutan warga mengenai pemberdayaan masyarakat yang dapat mensejahterakan masyarakat pesisir Tarumajaya melalui program-program bermanfaat.

Namun pertemuan tertutup tersebut disayangkan oleh awak media yang ingin meliput langsung jalannya mediasi. "Pasti ada apa-apanya, kenapa kita tidak diizinkan masuk," ucap Ferry dari media Top Time dengan nada sinis yang kemudian diamini oleh Remon dari Persatuan Wartawan Republik Indonesia. (tahar)

Bagikan Sekarang

Komentar Anda

Artikel Terkait