Buruknya Sinergitas Diyakini Menjadi Penyebab Kawasan Wisata Jembatan Cinta Berjalan Ditempat

oleh -631 views

TARUMAJAYA, BEKASIPEDIA.com – Buruknya sinergitas antar kelompok yang berada didalam pengelolaan kawasan wisata jembatan cinta diyakini menjadi penyebab minimnya perbaikan dan pemeliharaan

Ungkapan tersebut disuarakan Waryanto, Bidang Pembinaan SDM Kelembagaan Dinas Pariwisata, Kabupaten Bekasi, Jawa Barat, menyoal adanya insiden pengunjung yang tercebur akibat salah satu trek ambruk karena rapuh.

“Di Kabupaten Bekasi, hanya Jembatan Cinta sistim pengelolaannya seperti itu, harusnya Jembatan Cinta yang sudah menjadi Icon Destinasi Wisata di Kabupaten Bekasi sudah bisa berlari mandiri tidak berjalan di tempat seperti saat ini,” ucapnya kepada BEKASIPEDIA.com lewat telephone selularnya, Minggu (28/6/2020).

Dikatakan, Dinas Pariwisata tidak memungut serupiah pun dari tempat Wisata Jembatan Cinta, sarana dan prasana track berikut saung-saungan telah dianggarkan yang nilainya ratusan juta, kemudian 2 unit perahu dibelikan.

“Nah sekarang dari pengelolaan perahu tentunya dapat duit dong, kemana tuh duitnya kok sampai trek ada yang rapuh gak sanggup diperbaiki. Tentunya ada dong pertanyaan seperti itu, kecuali perahunya dari Dinas Pariwisata kita sewain, sewa aja tidak kok, gratis. Terus kemana uangnya,” ujarnya bertanya.

“Terkait masalah pembibitan mangrove, informasi yang saya dapat dari Astra itu anggaran CSR-nya untuk menanam 1000 bibit mangrove dipaket sekitar Rp 18 juta loh, kebetulan kami juga sewaktu ada kerja sama dengan Exxon, kami pernah mendapat tawaran menu paket dari Pokmaswas diangka Rp 18 jutaan, belum dari perusahaan lain, inikan sebenarnya bagus bila bisa dikelola dengan baik, masa sih tidak bisa disisihkan. Saya berharap antara Bumdes, Pokdarwis dan Pokmaswas bisa bersinergi agar keletarian hutan Mangrove dan Wisata jembatannya cintanya berjalan harmonis,” pungkasnya.

Tak dipungkiri, hal senada terlontar dari Ketua Karang Taruna Desa Segarajaya Ahmad Yani. Tupoksinya sebagai pelaksana tiketing di dalam pengelolaan kawasan Jembatan Cinta diakuinya sangat rentan dari kritikan, terlebih melihat kondisi Jembatan Cinta yang kondisinya sangat memprihatinkan dan bahkan pernah menelan korban jatuh tercebur akibat salah satu track ambruk karena rapuh dan kropos.

Namun dirinya berkeberatan bila titik kesalahan hanya ditujukan kepada pelaksana di lapangan terutama di bagian tiketing yang bertugas menerima uang hasil tiket pengunjung terlebih ada anggapan hanya ingin maraup keuntungan besar sementara kondisi jembatan cinta diabaikan.

“Cobalah seharian bersama kami di sini, dan buktikan sendiri bagaimana kebocoran itu mengalir, di sini gesekannya terlalu kuat, sementara kami tidak pernah didampingi oleh aparat desa dan keamanan setempat. Silahkan saja kami diperiksa, lengkap kok perinciannya,” ujarnya membela diri.

Berry, salah satu pengelola yang terlibat langsung dalam pengelolaan bahkan berani buka-bukaan bila dirinya diperiksa, menurutnya selama keterlibatannya di pengelola sejak 2018 tidak satupun dari pihak-pihak lain yang membantu dalam perbaikan dan pemeliharaan.

“Ini murni hasil sisa dari uang tiketing sementara kelompok yang ada disini seperti Bumdes, Pokmaswas, Kelompok Perahu dan Pelapak Lahan Parkir yang bertebaran di dalam kawasan wisata belum ada kontribusi dalam bentuk materi untuk perbaikan jembatan, jadi bila perbaikannya tidak menyeluruh dan tambal sulam ya seperti itulah yang bisa kami lakukan,” ucap Berry angkat bicara.

Terkait terus dibukanya kawasan wisata Jembatan Cinta pasca pemberlakuan PSBB Covid-19, diakui Ketua RT setempat Rinan bahwa banyak ditemukan beberapa titik kerusakan di Jembatan Cinta.

Mungkin karena beberapa bulan ditutup akibat pandemi Covid-19 jadi kayu kayunya banyak yang patah, hasil rapat dengan teman-teman pengelola dan atas ijin Kepala Desa lalu jembatan dibuka untuk umum dan hasil tiketing dipergunakan untuk perbaikan dan kemudian ada temuan dari Ormas Laskar Merah Putih yang menyikapi dugaan penyalahgunaan uang hasil tiket pengunjung.

“Intinya kami mempersilahkan adanya pengusutan tentang pengelolaan namun bila sampai terjadi penutupan, gesekannya lebih tinggi lagi karena selain akan berbenturan dengan masyarakat disini dampaknya akan mematikan perekonomian masyarakat setempat.”

Terpisah Kepala Desa Segarajaya H. Marjaya Sargan secara kelembagaan memberi apresiasi terhadap Ormas LMP atas temuan dan kritiknya namun perlu tahapan dan mekanisme untuk menetup kawasan wisata Jembatan Cinta. Terlabih banyak yang menggantungkan hidupnya di sana. (tahar)