Berlahan Elektabilitas Prabowo-Sandi Merangkak Kejar Jokowi-Ma’ruf

oleh -673 views
Direktur Survey & Polling lndonesia (SPIN), Igor Dirgantara (kiri-red) saat konprens di Cekini, Menteng, Jakarta Pusat, Kamis (7/3/2019). (jek)

JAKARTA, bekasipedia.com – Perlahan elektabilitas pasangan capres-cawapres nomor urut 02 Prabowo-Sandi merangkak mengejar pasangan capres-cawapres nomor urut 01 Joko Widodo-Mahruf Amin. Hal itu terungkap berdasarkan survei yang dilakukan Lembaga Survei Nasional yaitu Survey & Polling lndonesia (SPIN) menunjukkan selisih keduanya mencapai 8 persen.

Dari hasil survei nasional SPIN, pasangan Jokowi-Maruf Amin memang masih unggul dengan tingkat keterpilihan 49 persen, dibandingkan dengan pasangan Prabowo-Sandi sebesar 41 persen, dan sisanya 10 persen belum menjawab.

Direktur SPIN, Igor Dirgantara mengatakan, dalam periode masa kampanye bulan November 2018 hingga Januari 2019, petahana seperti kehilangan momentum yang membuat kompetitornya bisa menipiskan ketertinggalannya.

“Pasangan Jokowi-Ma’ruf seperti kehilangan momentum, sehingga membuat kompetitornya bisa menipiskan ketertinggalannya,” kata Igor dalam konferensi pers di Menteng, Jakarta Pusat, Kamis (9/3/2019).

Dari survei SPIN, menurut Igor, momentum terpenting semakin mengecilnya jarak elektabilitas kedua pasangan calon ini adalah adanya persepsi publik soal ekonomi yang belum membaik dan meningkatnya harga kebutuhan pokok.

Dijelaskan Igor, dengan pertanyaan tertutup, saat responden ditanya tiga hal yang paling mengkuatirkan mereka terkait kondisi umum akhir-akhir ini, maka persoalan lapangan kerja dan pengangguran menempati urutan teratas (68 persen), disusul naiknya harga-harga kebutuhan pokok (64 persen), serta korupsi (52 persen).

Sementara untuk dua hal yang paling mengkhawatirkan terkait masalah ekonomi, (73 persen) menjawab naiknya harga-harga kebutuhan pokok, diikuti oleh masalah lapangan kerja dan pengangguran sebanyak (44 persen).

“Ada 59 persen responden yang mengatakan bahwa harga makanan dan kebutuhan pokok lainnya meningkat, sedangkan 37 persen menjawab sama saja dan hanya 4 persen yang menjawab harga turun,” ujar Igor.