Bekasi Pedia TV dan Jaringan Telusur Berkolaborasi Launching Program Acara Talk Show Telusur Bekasi Pedia

oleh -119 views
Bekasi Pedia TV dan Jaringan Telusur berkolaborasi, mengadakan program acara Talk Show bernama Telusur Bekasi Pedia, yang kali ini Rabu (23/11/2021) bertemakan Sejarah Monumen dan Tugu di Kota Bekasi. (foto: mira)

BEKASI SELATAN, BEKASIPEDIA.com – Bekasi Pedia TV dan Jaringan Telusur berkolaborasi, mengadakan program acara Talk Show bernama Telusur Bekasi Pedia, yang kali ini Rabu (23/11/2021) bertemakan Sejarah Monumen dan Tugu di Kota Bekasi.

Telusur Bekasi Pedia mengundang Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan, Dr. Moh. Ridwan, M.M, Ahli Sejarah, Ali Anwar untuk memberi penjelasan mengenai sejarah khususnya tentang Monumen dan Tugu yang ada di Kota Bekasi, Jawa Barat.

Sebagai Ahli Sejarah, Ali Anwar menjelaskan, bahwa sepanjang sejarah Bekasi diketahui asal usulnya berdasarkan ditelusuri dari tokoh – tokoh pejuang yang ada di Bekasi, kenapa Bekasi dinamakan Kota Patriot karena pada saat itu Bekasi menjadi front terdepan pertahanan Republik Indonesia sebagai markas sekutu tentara NICA yang terletak di Bekasi tepatnya di Cakung, saat Cakung belum diambil oleh Jakarta sekitar tahun 1975.

“Bekasi hingga Karawang dikuasai oleh tentara NICA, untuk itu di Bekasi banyak terdapat Monumen atau Tugu, saat Belanda mengakui Kedaulatan Indonesia pada tahun 1946, para pejuang di Bekasi pada akhirnya membangun Monumen, Tugu pertama kali di Bekasi berada di Jalan K.H Agus Salim”, jelasnya.

“Asal mula didirikan Tugu berawal dari gagasan tokoh-tokoh Bekasi, yang mengajak tukang ayam dengan membawa batu bata dari rumah untuk membangun Tugu”, ungkap Ali Anwar lagi.

Sebagai Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan, Mohammad Ridwan mengatakan, sesuai KepWal 431 THN 2011, ada 8 monumen sejarah perjuangan kali Bekasi yang ditetapkan oleh Walikota yaitu Monumen Perdamaian, Tugu Pahlawan, Gedung Pakpak Juanda, Tugu Agus Salim, Sumur Binong Jatiasih, Sumur Batu Bantar Gebang, Sumur Bandung Jatisampurna, Rumah Adat di Jatisampurna.

“Tempat bersejarah yang ada di Bekasi harus dijaga dan dilestarikan, seluruh warga Bekasi harus turut menjaga dan merawat, dengan rasa memiliki, agar semakin banyak pengunjung dari luar yang berdatangan, sehingga dapat membantu perekonomian di Bekasi”, tambah Dr. Moh Ridwan, M.M. (mira/obin/pd)