5.952 Peserta BPJS Kesehatan Kota Bekasi Harus Registrasi Ulang

oleh -128 views

BEKASI TIMUR, BEKASIPEDIA.com – Sebanyak 5.952 peserta BPJS Kesehatan yang terdaftar di Kota Bekasi, Jawa Barat harus melakukan registrasi ulang dan terancam dibekukan kepesertaannya.

Hal ini diungkapkan Kepala Cabang BPJS Kesehatan Kota Bekasi, Mega Yuda Ratna Putra, pada Selasa (3/11/2020).

Dia menjelaskan data kepesertaan yang mereka cantumkan belum dilengkapi data diri, terutama nomor induk kependudukan (NIK).

Mayoritas dari mereka yang harus registrasi ulang adalah peserta Non Penerima Bantuan Iuran (PBI), seperti segmen peserta dan anggota keluarga pekerja penerima upah penyelenggara negara seperti ASN, TNI Polri, serta pensiunannya.

“Sekarang ini fokusnya kepada non PBI. Artinya, siapa itu adalah khususnya PNS dan TNI/Polri, jadi fokusnya ke segmen itu tadi,” jelas Mega, di kantornya.

Mega menjelaskan, data mereka menjadi tidak valid lantaran kosongnya data Nomor Induk Kependudukan (NIK). Biasanya, kasus yang ditemukan adalah KTP yang dipergunakan saat mendaftarkam diri belum mempergunakan KTP elektronik.

“Kalau sekarang pakai single indentitas. Kebanyakan yang terjadi sekarang adalah yang KTP-nya masih lama. Yang sekarang KTP-el. Jadi banyak dari mereka yang tidak melakukan perekaman,” terangnya.

Sementara itu, Kepala Bidang Kepesertaan dan Pelayanan Peserta BPJS Kesehatan Kota Bekasi, Zuamah, menerangkan waktu registrasi ulang tak ada batasannya.

Hanya saja, kepesertaan mereka akan dibekukan sementara waktu hingga peserta tersebut melakukan registrasi. Meski begitu, penonaktifan sementara tidak akan mengurangi hak peserta untuk mendapat jaminan pelayanan kesehatan.

Ketika peserta hendak menggunakan haknya di faskes pertama maupun lanjutan, nantinya mereka akan diinformasikan terkait proses registrasi ulang tersebut.

Mereka dapat melakukan registrasi ulang menggunakan aplikasi Pandawa, call center maupun BPJS Kesehatan tingkat satu yang ada di rumah sakit.

“Data itu dinonaktifkan tapi pesertanya tidak registrasi ulang, mungkin ada beberapa alasan ya, bisa jadi orang tersebut sudah meninggal, mungkin data itu sudah tidak ada. Makanya kalau peserta tahu kalau data masih ada, mereka akan update,” ungkap Zuamah. (rus)